Main | April 2005 »

Manusia Pemangsa Serigala

Kisah ini berawal ketika aku hendak berangkat ke Tokyo dari Toronto, Kanada. Aku menggunakan pesawat JAL waktu itu, dan menurut ramalan cuaca di bandara penerbangan akan berlangsung mulus. Tapi musibah terjadi, saat melintas di atas dataran Alaska, pesawat mengalami turbulensi dan jatuh. Dari 220 penumpang dan awak pesawat hanya sekitar 70 org yg selamat. Pilot dan kopilot keduanya tewas.

Untungnya salah satu penumpang ternyata adalah seorang pendaki gunung yg sudah sangat berpengalaman di medan bersalju. Ia berkata bahwa kami harus segera mencari tempat perlindungan, bukan saja dari udara dingin, tapi juga dari kawanan serigala yg banyak berkeliaran di daerah itu. Benar saja, baru saja kami hendak bergerak, sekawanan serigala datang menyerang dan mengepung kami. Bersenjatakan batang kayu dan potongan pesawat, kami berhasil mengusir mereka, tetapi 14 org, termasuk 5 anak kecil, tewas diterkam serigala.

Tanpa menunda lagi kami pun memulai perjalanan. Si pendaki gunung yg ternyata bernama Alan memimpin rombongan menuju kaki sebuah gunung, dgn harapan akan menemukan gua yg dpt dijadikan perlindungan. Para korban yg terluka digotong dgn tandu2 yg dirakit dari puing2 pesawat. Kami juga membawa apapun yg bisa berguna, termasuk makanan dan sebuah pistol isyarat. Setelah beberapa lama kami tiba di kaki gunung tersebut, dan menemukan sebuah gua yg cukup luas. Kami pun memutuskan untuk bermalam di gua itu.

Malam itu aku sempat berbincang-bincang dgn Alan. Ia bercerita banyak ttg pengalaman mendakinya, termasuk di puncak tertinggi dunia, Everest. Dijelaskannya juga berbagai kiat bertahan hidup di alam liar, termasuk jenis2 jamur dan tanaman liar yg aman dimakan dan - ini yg unik - dipercaya mempunyai kekuatan magis. Sepertinya Alan pernah tinggal bersama suku Indian atau penduduk asli lain, tapi aku tidak menanyakannya. Alan mengatakan bahwa besok ia akan pergi mencari bantuan. Aku menawarkan diri untuk ikut.

Esoknya kami berangkat saat matahari baru terbit. Ada 5 org dlm kelompok kami: Yuzo Ishikawa, seorang mahasiswa Universitas Tokyo yg anggota klub pecinta alam. Lalu ada Tony dan Michael Gallagher, sepasang kakak-beradik asal Manchester. Berikutnya Alan, dan aku sendiri. Di antara kami berlima, hanya aku yg tidak punya pengalaman hidup di alam bebas. Gallagher bersaudara saja sudah sering pergi berkemah dan mancing bersama ayah mereka yg merupakan anggota SAS (Special Air Service, pasukan khusus Inggris). Aku cuma tidak tahan untuk terus diam di gua perlindungan. Aku ingin berbuat sesuatu, dan belajar sesuatu dari orang-orang pemberani ini.

Singkatnya, di tengah perjalanan kami kembali diserang segerombolan serigala. Saat itu ada sekitar 30 ekor serigala yg mengelilingi kami. Aku ingat melihat Michael meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari empat serigala yg mencabik-cabik tubuhnya. Tony sudah lebih dulu roboh dgn bersimbah darah. Aku dan Yuzo tdk dapat mencapai posisi Michael karena juga sedang dikelilingi belasan serigala, dan hanya bisa berusaha menakut-nakuti para penyerang kami dgn sebatang kayu.

Yang terlihat aneh adalah Alan. Di tengah keadaan chaos itu ia tampak seperti org teler, berjalan terayun-ayun kesana-kemari. Tapi walaupun demikian, tak satupun serigala yg berhasil menerkamnya, karena dgn lincah ia selalu bisa berkelit dan menghindar. Ia terlihat seperti master kungfu aliran dewa mabuk yg banyak digambarkan dlm cerita-cerita silat.

Belum habis rasa heranku, tiba2 terdengar suara jeritan. Aku menoleh dan melihat Yuzo sudah digigit lehernya oleh seekor serigala berukuran besar. Aku berteriak dan bergegas datang untuk menolongnya, tapi sedetik kemudian sesuatu menghantamku dari belakang sampai aku terjerembab ke tanah. Aku tak perlu melihat untuk tahu apa yg menabrakku. Suara menggeram dan napas panas serigala abu-abu mengusap belakang leherku. Baru sekarang aku merasa takut. Aku tak bisa bergerak.

Saat itulah aku mendengar seseorang meneriakkan sesuatu dlm bahasa yg tak kupahami, seperti bahasa suku Indian Amerika. Pada saat hampir bersamaan kurasakan berat serigala di punggungku mulai berkurang, lalu menghilang. Apa suara teriakan itu membuat serigala takut? Perlahan-lahan aku mencoba berdiri, dan kemudian kudengar suara sesuatu jatuh di belakangku. Ternyata itu adalah serigala yg tadi menerkamku; aku tak merasakan beratnya sama sekali.

Aku melihat berkeliling. Entah mengapa, perhatian semua serigala kini tertuju padaku. Mereka mendekat dari segala arah, tapi ada rasa takut terlihat di mata mereka yg kelabu. Sekilas aku bertanya dlm hati, apa yg menyebabkan ketakutan itu? Padahal jelas seharusnya akulah yg ketakutan dan panik, tapi aku sama sekali tak merasakannya...

Detik berikutnya pertanyaanku terjawab. Seperti org kerasukan, tubuhku bergerak dgn sendirinya, melompat begitu tinggi dgn kekuatan yg entah datang dari mana. Aku mendarat tepat di atas seekor serigala besar dan gigiku dgn sendirinya langsung mencabik nadi lehernya. Darah segar menyembur dgn deras. Seekor serigala lain melompat hendak menerkamku, tapi tangan kiriku langsung menangkapnya di udara dan menghempaskannya ke tanah. Kemudian tangan kananku menusuk menembus dagingnya dan meremas jantungnya sampai remuk. Pemandangan yg mengerikan, tapi ada sesuatu dlm diriku yg merasa puas. Dan lebih mengerikan lagi, aku tahu sesuatu itu merasa lapar.

Tak banyak lagi yg kuingat selain itu, selain cipratan darah, lolongan kesakitan serigala, dan lebih banyak darah. Tiba-tiba saja, aku sudah duduk bertelanjang dada di tengah2 salju, dengan puluhan bangkai serigala bergelimpangan di sekelilingku. Lalu, dgn perasaan seperti baru bangun dari sebuah mimpi buruk, samar2 aku melihat Alan mendekat.

"Maafkan aku. Aku terpaksa melakukannya demi keselamatan kita," katanya.

Blm sepenuhnya sadar, aku bertanya, "Melakukan... apa?"

Ia tidak menjawab, tapi hanya menunjuk ke sebelah kiriku. Aku terlonjak ngeri saat melihat tubuh seekor serigala yg hancur. Bagian kiri tubuhnya hanya tinggal tulang saja, darah dan beberapa organ tubuhnya berceceran di tanah bersalju. Binatang itu tampak seperti baru dimangsa oleh predator lain yg lebih buas, kuat, dan ganas.

"S... siapa yg melakukannya?" aku bergidik, sebagian krn ngeri dan sebagian krn dinginnya padang bersalju sudah mulai menusuk tulang.

Alan menatapku. "Kau," katanya. Ia terdiam sejenak, lalu kemudian melanjutkan, "Atau lebih tepatnya, roh yg tadi kumasukkan ke dlm dirimu."

Aku tersentak. Gerakan Alan yg seperti tidak sadar... Seruan dlm bahasa Indian... Bangkai serigala yg bergelimpangan...

Sesuatu yg asin terasa di lidahku. Aku menyentuhnya. Darah. Aku mengusap mulutku, dan tanganku langsung dipenuhi warna merah. Semuanya menjadi jelas. Aku benar2 mengalahkan sekelompok serigala sendirian. Dan aku memakan daging mereka.

Aku ingin sekali marah, tapi tidak ada kekuatan di tubuhku utk itu. Maka aku hanya bertanya, "Kauubah jadi apa diriku, Alan?"

Alan kembali terdiam. Sepertinya ia tidak tahu kata2 apa yg harus digunakannya utk menjelaskan padaku. Tapi akhirnya ia menjawab, "Tenang, ini tidak akan membuatmu melukai siapapun, termasuk dirimu sendiri. Roh yg kini menghuni dirimu tidak berbahaya. Kau tetap bisa hidup normal. "Tapi, roh itu kadang2 -- tidak selalu -- akan mengambil alih tubuhmu bila kau, sebagai tubuh yg ditumpanginya, berada dlm bahaya. Kau akan memiliki kekuatan melebihi manusia biasa, bahkan sebagian dpt dikatakan supranatural. Bila roh itu lapar, tubuhmu juga pasti dikuasai olehnya. Dia akan lapar bila merasakan keberadaan satu-satunya makanannya di dekatnya."

"Apa makanannya?" tanyaku. Aku sudah bisa menebak jawabannya.

Alan melihat sekilas ke sisa2 hewan yg teronggok di sampingku. "Serigala," katanya. "Karena itu, bangsa Indian menyebut org yg berisi roh itu... Manusia Pemangsa Serigala."

Mirza dalam lakon "Diculik Sesuatu"

Ini cerita tentang Mirza, seorang pemuda yang sangat ingin menjadi musisi. Suatu malam ia sedang berjalan di trotoar setelah makan di sebuah warung, sekedar ingin menikmati udara malam yang sejuk. Tiba-tiba, sesuatu terbang dengan cepat di langit. Belum sempat ia merasa terkejut, sesuatu itu sudah menyinarinya dengan cahaya yang sangat terang, dan tiba-tiba segalanya menjadi gelap...

Saat Mirza tersadar, ia sudah terbaring tanpa busana di tengah sebuah ruang operasi. Di sekelilingnya berdiri beberapa sosok berpakaian seperti dokter bedah, tetapi mereka bukan manusia; mereka lebih terlihat seperti gurita berkulit logam. Tiba-tiba, salah satu dari mereka bersuara, "UININDAOHDUINDIQBFUNHASJKDNAJKLBFAWNDAS?" Nada suara itu seperti manusia berbicara, tetapi kata-katanya sama sekali tidak seperti bahasa manapun di dunia ini. Mirza tidak bisa berbuat apa-apa selain diam saja. Makhluk itu mulai terlihat kesal. Ia bersuara lagi, "BVNUVGUVHFBAIXNJKADNUBVFUBVFIAWDBWEGUBDF??" Tentu saja Mirza kembali tidak mengerti dan hanya bisa diam. Kini makhluk itu benar-benar kesal.

"DFTDHJVFDUBFHJKO%**^(%*45637645623GHVKGKNKLNL!!" suaranya menjadi lebih keras, tetapi kini Mirza mengerti apa yang dikatakannya, karena kini makhluk itu menggunakan angka; memang angka merupakan bahasa yang universal. Ia pun membalas, "Jangan marah-marah dong, Mas, saya kan nggak ngerti!" Di luar dugaan, makhluk itu menjawab, "Ya lagian dari tadi nggak jawab!" Mirza terkejut. "Lho, sampeyan bisa bahasa Indonesia?!"

Makhluk itu, dan makhluk-makhluk lain di sekeliling Mirza, hanya tersenyum dingin saat ia kembali tersilaukan oleh cahaya terang, dan segalanya kembali menjadi gelap. Saat ia membuka mata, ia menemukan dirinya kembali mengenakan pakaian, bersandar di sebatang pohon jati besar, di trotoar tempatnya berjalan tadi; makhluk-makhluk itu membuatnya tidur sambil berdiri. Masih tidak yakin apakah yang baru dialaminya mimpi atau kenyataan, ia berjalan kembali ke warung tempatnya makan tadi, di mana beberapa orang temannya sedang mengobrol sambil tertawa-tawa. Mirza tak dapat mendengar mereka dengan jelas, tapi saat ia duduk, salah satu temannya yang bernama Aryo bersuara:

"CHJBJNVGFUDNIASGDUANHXDUIGDUHQIOSHIDHOJQHSDUISTYAFTYBGUIGDUA??"