« September 2005 | Main | March 2006 »

Kita Hanya Butuh Dihargai...

Gua pingin bikin tulisan ini setelah dengar curhatan teman gua, sebut saja Jerry, beberapa hari yg lalu. Dia tinggal di suatu tempat kost yg mayoritas penghuninya, termasuk anak sang pemilik, kuliah di suatu jurusan yg terkenal sulit, sementara dia sendiri nggak. Nah, tiap kali anak2 lain itu mau ujian, mereka pasti ngajak teman2 mereka belajar bareng di tempat kost itu. Sekitar 10-15 org bakal menuhin ruang tengah, belajar rame2 diselingi obrolan dan tawa keras, dan bikin berantakan. Dia udah nyoba ngomong ke pemilik kost bahwa dia terganggu, tapi nggak digubris. Ini udah terjadi berkali-kali, dan kemarin waktu dia cerita, kelihatan banget marahnya udah benar2 memuncak.

Cerita teman gua ini ngingatin gua sama kisah teman gua yg lain, sebut saja Fiona. Suatu kali perkumpulan yg dia ikuti bikin acara, dan di saat2 terakhir dia minta jadi pengisi. Karena acaranya padat, panitia cuma bilang bakal usahain, tapi dia optimis dan tetap siap2 di hari-H, apalagi malam itu panitia bilang masih ada slot waktu buat dia. Dgn antusias dia nunggu dipanggil ke depan, tapi tiba2 MC bilang acaranya udah selesai. Teman gua pun kesal.

Kalau sudah begitu, apa yg harus dilakukan? Apa teman2 kost Jerry harus berhenti belajar bareng? Apa acara itu seharusnya diperpanjang biar Fiona bisa main?

Ternyata tidak. Sebenarnya keluhan terbesar kedua org itu kurang-lebih sama: mereka merasa tidak dihargai.

Jerry mengerti bahwa teman2nya perlu belajar bersama. Ia bahkan cukup peduli buat nanya jadwal ujian mereka. Dia cuma minta mereka sadar bahwa ia terganggu, dan setidaknya minta izin ke dia sebagai salah satu penghuni kost itu. Syukur2 kalau mereka bisa menjaga kerapian dan volume suara. Dgn begitu, dia pun bisa berbesar hati dgn keadaannya, bahkan dgn ikhlas mungkin menyingkir sementara sampai keadaan tenang. Cuma itu.

Sementara, kekesalan terbesar Fiona adalah bahwa nggak satupun panitia ngasih tahu dia bahwa dia batal main, apalagi minta maaf. Ia tahu bahwa kemungkinan batal waktu itu cukup besar karena jadwal yg ngaret dan lain2, tapi tetap aja antusiasmenya udah sempat timbul. Dan itu semua berubah menjadi kekecewaan. Kekecewaan yg selama beberapa lama hanya ia pendam, karena ia terlalu kesal utk complain.

Hal2 kecil seperti ini memang sangat mudah buat lolos dari perhatian kita. Mungkin karena begitu sederhana sampai2 tidak terpikir oleh otak kita yg biasa dituntut berpikir berat dan rumit. Mungkin juga karena kita sudah merasa akrab dgn seseorang sampai tidak perlu terlalu menjaga perasaan.

Padahal, saling menghargai bukanlah hal yg main2. Menurut Dale Carnegie, penulis buku "Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain" yg menjadi best-seller dunia, dihargai dan diakui org lain bahkan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Hal inilah yg mendorong manusia utk berlomba-lomba meningkatkan dirinya di mata org lain, bahkan org rela berbuat kejahatan besar agar diakui sebagai penjahat yg hebat, atau menipu yang kemudian pasti diikuti oleh ribuan dusta lain. Serangan terhadap ego atau harga diri seseorang merupakan hal yg sangat menyakitkan, yang dlm kasus ekstrim cukup utk menjadikannya seorang pembunuh.

Dan ini bukan sekedar teori. Karena tak tahan lagi, Jerry sampai menyumpahi org2 yg belajar di rumahnya, dan besoknya, sedikitnya dua dari mereka kehilangan benda yg berharga (gua nggak perlu kasih tahu barangnya, nanti ketahuan org yg dimaksud). Mungkin krn perasaannya sangat tertekan ketika itu, Yang Maha Kuasa menganggapnya doa org teraniaya sehingga langsung dikabulkan.

Menghargai org lain tidak berarti kita tidak boleh akrab dgn org lain, apalagi bersikap kaku. Kita hanya perlu sedikit peka utk bisa merasakan perasaan org lain, bagaimana kira2 perasaan dia atas tindakan kita. Bila ia merasa dirugikan atau tidak dihargai, ya jangan lakukan, cari jalan lain. Atau setidaknya minta maaflah dgn tulus. Dgn begitu paling nggak dia tahu kita sebenarnya peduli sama dia, walaupun keadaan memaksa kita berbuat demikian.

Yah, walaupun seperti kata Elton John, "sorry seems to be the hardest word to say"...

Arya Antaputra, Nyatakah Dia?

Kontroversi tak pernah lepas dari sosok yg satu ini. Ada yg menganggapnya aneh, ada yg menganggapnya baik hati. Ada yg menyebutnya pembuat gaduh, ada yg melihatnya selalu diam. Ada yg menyebutnya cuek, tapi ada juga yg menyebutnya setia kawan. Sekarang, muncul pertanyaan baru: apakah Arya Antaputra benar2 ada?

Kebanyakan org secara spontan akan menjawab "ya" pd pertanyaan tersebut. Bagaimana tidak, hampir setiap hari ia terlihat dan mengikuti kuliah di Institut Teknologi Bandung. Ia punya keluarga, riwayat hidup, alamat tempat tinggal, dan tentu saja teman. Sebagian org bahkan merasa berhubungan dekat dgn Arya.

Lalu, mengapa eksistensinya dipertanyakan?

Bila diperhatikan, banyak terdapat kejanggalan pd diri dan kehidupan Arya. Yg paling terlihat tentu saja sikap dan tingkah lakunya yg seringkali aneh. "Energinya seperti tak terbatas, terus bergerak, bernyanyi, dan tertawa-tawa," tutur seorang mahasiswa ITB. "Ngomongnya aneh banget, kadang2 saya bingung dia waras atau tidak," timpal mahasiswa lain.

Arya juga seringkali muncul dan menghilang tanpa diduga-duga. Ia jarang berbicara utk menanggapi org; bila berbicara, biasanya ia mengangkat topik yg hanya dipahaminya sendiri. Kadang2 keberadaannya tidak disadari org di sekitarnya, seakan ia tidak di sana.

Semua fenomena ini lambat laun menimbulkan pertanyaan: apa Arya itu nyata?

Menurut Dimas (nama samaran), seorang psikolog dari Institut Psikologi Indonesia, keberadaan Arya dapat merupakan gejala dari halusinasi massal. Ini merupakan sebuah fenomena yg sangat jarang terjadi, dan biasanya direkayasa dgn obat2an atau terapi tertentu. "Cara ini pernah digunakan oleh Nazi Jerman pada Perang Dunia II, dan ada kemungkinan juga digunakan oleh rezim Milosevic di Serbia," contohnya.

"Dgn pengaturan pola pikir yg tepat, bayangan yg sama dapat diatur agar muncul dlm pikiran tiap org. Ini yg menyebabkan wujud fisik Arya yg dilihat tiap org rata2 serupa," tambahnya.

Mengenai perilaku Arya yg bervariasi, "Kemungkinan besar, sosok Arya memang dirancang utk memenuhi kebutuhan psikologis atau fantasi individu, yg pada tiap org kadarnya berbeda. Ia juga dapat merupakan simbol utk pemanggilan memori dari alam bawah sadar."

Menghadapi dunia yg semakin kompleks dan membingungkan ini, memang banyak org mengalami depresi dan melarikan diri secara psikologis, termasuk menggunakan alkohol dan obat2an. "Bagi banyak org, sosok Arya mungkin merupakan terapi yg efektif, baik sebagai pelarian atau pelampiasan fantasi2 liar."

Lalu, siapa yg merekayasa Arya Antaputra? Dugaan terkuat jatuh pada ITB sendiri. "Suasana ITB yg kompetitif dan penuh konflik menimbulkan kelelahan yg memudahkan halusinasi massal yg terkendali dilakukan," menurut Luthfi (nama samaran), seorang pakar psikologi massa. Tambahnya lagi, ITB mempunyai sumber daya yg cukup utk melakukan hal tsb. "Soal riwayat hidup dan dokumen2 lain, itu soal kecil. Ingat, ini Indonesia!" katanya setengah berkelakar.

Untuk apa ITB berbuat demikian? "Pada tahap lanjut, halusinasi massal dapat digunakan utk mengendalikan massa secara total," lanjut Luthfi. "Yang kita lihat sekarang ini baru awal."

"Ini dapat merupakan proyek kerjasama ITB dgn kekuatan lain, baik dalam negeri maupun asing. Eksperimen sebesar ini pasti menghasilkan pemasukan yg sangat besar bagi ITB," tambah Dimas. Nilai proyek ini, bila memang benar2 ada, diperkirakannya mencapai puluhan milyar rupiah.

Saska (nama samaran), seorang aktivis KM-ITB, menduga proyek ini juga berhubungan dgn memburuknya hubungan rektorat dgn mahasiswa. "(ITB) dgn mudah bisa memanipulasi pikiran mahasiswa agar mengikuti kemauan mereka. Pembubaran himpunan, pembubaran KM, DO mahasiswa, dan manuver2 lain dapat dilakukan tanpa perlawanan," jelasnya. "Apalagi, proyek ini dapat menghasilkan dana besar. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui."

Seperti dapat diduga, pihak ITB sendiri membantah keras tuduhan2 tersebut. "Tidak benar itu, masa kami mengorbankan mahasiswa menjadi kelinci percobaan? Benar2 mengada-ada," kata Wakil Rektor Bidang Riset saat ditemui di kantornya di Rektorat ITB, Jl. Tamansari 64.

"Nama Arya Antaputra memang terdaftar sebagai mahasiswa di sini. Data2nya lengkap, kalau mau nanti silakan lihat. Dan dia sering ada di kampus kan? Masa masih dibilang tidak nyata? Sepertinya mereka perlu refreshing, nanti saya usulkan ke Bapak Rektor bikin acara wisata," tambahnya bercanda. Beliau sendiri mengaku blm pernah bertemu dgn Arya.

Bagaimanapun juga, misteri Arya telah menyebabkan munculnya berbagai teori di kalangan mahasiswa (lihat: Teori-teori Lain). Sebagian mahasiswa bahkan meluangkan sebagian waktunya utk menyelidiki misteri ini lebih jauh. "Gue udah ke Jakarta, lihat rumahnya, ngobrol sama teman2nya. Kalau gue sendiri sih sekarang yakin Arya emang ada," kata Ayu (EL '04).

"Kalau saya masih blm yakin. Semua itu bisa rekayasa. Org2 yg saya wawancara kebanyakan hanya mengenalnya secara umum, dan yg lebih akrab pun hanya ingat sepotong2. Jangan2 ingatan mereka juga dimanipulasi," kata Syawal (TI '03).

Apa yg menyebabkan Syawal, Ayu, dan banyak mahasiswa lain rela mengorbankan waktu, tenaga, dan uang utk menyelidiki Arya, apalagi mengingat tuntutan akademik ITB saat ini sudah semakin berat? Ayu menjawab bersemangat, "Seru aja. Jarang kan ada kasus seperti ini. Lagipula gue jadi banyak teman baru, dari org2 yg ngasih informasi dan dari anak ITB sendiri yg mau tahu progress gue."

"Sebenarnya saya lebih senang beraktivitas di unit. Tapi skrg kita banyak dapat tekanan dari atas [rektorat ITB, red.]. Sulit bikin acara. Jadi sambil tetap aktif di unit, saya coba kegiatan baru. Lumayan, teman2 juga mulai tertarik," kata Syawal, yg diiyakan oleh beberapa temannya.

Bagi mahasiswa ITB, keberadaan Arya memang memberi kesan tersendiri. "Gue sih senang aja ngelihatnya. Aneh, lucu. Lain dari yg lain," komentar Duwita (BI '02).

"Dia baik banget. Senang foto2, nggak tahu tuh buat apa," kata Hariza (TL '03).

"Aneh aja. Yg gua nggak suka, dia senang cari2 perhatian. Berasa seleb," kata Bona (TM '03).

Nah, bagaimana pendapat Anda?

Tampil, Pak!

Dramatis Personae:
Arya. Lulusan ITB. Keterangan lainnya ada di profile.
Pewawancara. Ramah, sopan, komunikatif.

Lokasi: Ruang Wawancara

(Pewawancara sedang duduk di balik meja. Terdengar ketukan di pintu)

Pewawancara (P): Masuk!

(Arya masuk)

P: Selamat pagi. Silakan duduk! Boleh saya lihat mapnya?
Arya (A): Oh, silakan. (menyerahkan amplop)
P: Hmmm... Arya Antaputra. Saya bisa panggil apa, Mas?
A: Arya saja.
P: OK. Silakan duduk, Mas Arya.

(keduanya duduk)

P: (membuka-buka map) Apa yang membuat Mas Arya tertarik untuk melamar kerja di perusahaan ini?
A: Yah, fasilitas yang ditawarkan menarik, dan gajinya juga cukup besar.
P: Oh, begitu. (melihat ijazah S-1) Oh, Mas Arya lulusan ITB? Teknik Elektro pula! Pintar dong Mas Arya ini!
A: (tertawa sopan) Ah, biasa saja sih, Pak.
P: (melihat lembar berikutnya, transkrip nilai) Oh, iya sih. IP-nya kecil.

(P melihat-lihat berkas lainnya, lalu kembali menatap A)

P: Sekarang mari kita bicara mengenai minat. Seperti kita ketahui, kalau pekerjaan kita sesuai dengan minat biasanya kita akan lebih bersemangat dalam mengerjakannya. Minat atau hobby Mas sendiri apa?
A: (berpikir) Ada beberapa sih, tapi yang utama ada dua. Yang pertama, main game.
P: Oh, main game? Game seperti apa?
A: Biasanya sih yang action, tembak-tembakan gitu Pak. Tapi strategi dan RPG saya juga suka. Sebenarnya hampir semua jenis game saya suka.
P: Wah, gamer sejati kelihatannya! Ada rencana mau jadi game designer mungkin?
A: Maunya sih begitu, Pak. Sampai sekarang saya masih belajar.
P: Oh begitu. Bagus, bagus. Tadi katanya hobby Mas ada dua. Yang satu lagi apa?
A: Oh, yang satu lagi? (terlihat malu-malu) Wah, gimana ya, Pak? Susah dijelaskan, sih. Tapi, dalam satu kata... Itu, Pak... (tiba-tiba menjadi sumringah) TAMPIL, PAK!!

(masuk lagu "Si Raja Tampil")

Aku Cupu

Aku cupu.

Aku cupu.

...

Cupukah aku?

Ya. Tidak.

YA!

TIDAK!

YAAAA!

TIDAAAAK!

...

Aku tidak tahu...

Self-motivation...

"Udahlah, El, nggak ada yg peduli sama loe, jadi nggak usah ngareplah. Loe bisa mencari seumur hidup loe tapi nggak bakal ketemu. Loe bisa bertanya-tanya sampai otak loe jebol tp nggak bakal dapat jawaban.

"Jadi udahlah. Cukup. Nggak ada yg peduli sama loe, jadi harus loe yg peduli sama diri sendiri. Karena kalo nggak, maka eksistensi loe nggak ada gunanya. Mending loe mampus aja.

"Loe harus berjuang demi diri loe walaupun org tetap nggak nganggap loe ada. Loe harus maju, loe harus sukses walaupun org tetap nggak mengakui, walaupun dunia bahkan nggak menganggap loe cukup bagus buat disebut sampah.

"Dunia nggak peduli sama loe, jadi kalo loe nggak peduli sama dunia, itu wajar dan emang hak loe. Walaupun begitu, ingat El, membalas kebaikan dgn kebaikan itu balas budi, tp membalas kejahatan dgn kebaikan itu kemuliaan. Dunia boleh nggak menganggap loe eksis, tp apa loe mau turun ke level yg sama? Coba pikirin. Tahan ego loe dan pikirin baik2.

"Sekarang loe lagi banyak ngalamin cobaan. Dari dulu Yang di Atas nggak henti2nya menguji loe. Nggak usah loe pikirin apa maunya Dia, krn lagi2 loe nggak bakal dpt jawaban. Loe nggak akan bisa ngendaliin org lain jadi kaya mau loe, tp ada satu yg bisa loe kendaliin: diri loe sendiri. Kontrol diri loe, arahin dgn baik, dan mungkin - mungkin - sesuatu akan menjadi lebih baik, walaupun kemalangan akan terus datang dari dunia yg kejam dan penuh prasangka ini.

"Jangan pernah menyerah. Kalaupun harus roboh, robohlah dgn bangga krn loe terus bertahan sampai penghabisan."

-from a lonely soul to itself