Kita Hanya Butuh Dihargai...
Gua pingin bikin tulisan ini setelah dengar curhatan teman gua, sebut saja Jerry, beberapa hari yg lalu. Dia tinggal di suatu tempat kost yg mayoritas penghuninya, termasuk anak sang pemilik, kuliah di suatu jurusan yg terkenal sulit, sementara dia sendiri nggak. Nah, tiap kali anak2 lain itu mau ujian, mereka pasti ngajak teman2 mereka belajar bareng di tempat kost itu. Sekitar 10-15 org bakal menuhin ruang tengah, belajar rame2 diselingi obrolan dan tawa keras, dan bikin berantakan. Dia udah nyoba ngomong ke pemilik kost bahwa dia terganggu, tapi nggak digubris. Ini udah terjadi berkali-kali, dan kemarin waktu dia cerita, kelihatan banget marahnya udah benar2 memuncak.
Cerita teman gua ini ngingatin gua sama kisah teman gua yg lain, sebut saja Fiona. Suatu kali perkumpulan yg dia ikuti bikin acara, dan di saat2 terakhir dia minta jadi pengisi. Karena acaranya padat, panitia cuma bilang bakal usahain, tapi dia optimis dan tetap siap2 di hari-H, apalagi malam itu panitia bilang masih ada slot waktu buat dia. Dgn antusias dia nunggu dipanggil ke depan, tapi tiba2 MC bilang acaranya udah selesai. Teman gua pun kesal.
Kalau sudah begitu, apa yg harus dilakukan? Apa teman2 kost Jerry harus berhenti belajar bareng? Apa acara itu seharusnya diperpanjang biar Fiona bisa main?
Ternyata tidak. Sebenarnya keluhan terbesar kedua org itu kurang-lebih sama: mereka merasa tidak dihargai.
Jerry mengerti bahwa teman2nya perlu belajar bersama. Ia bahkan cukup peduli buat nanya jadwal ujian mereka. Dia cuma minta mereka sadar bahwa ia terganggu, dan setidaknya minta izin ke dia sebagai salah satu penghuni kost itu. Syukur2 kalau mereka bisa menjaga kerapian dan volume suara. Dgn begitu, dia pun bisa berbesar hati dgn keadaannya, bahkan dgn ikhlas mungkin menyingkir sementara sampai keadaan tenang. Cuma itu.
Sementara, kekesalan terbesar Fiona adalah bahwa nggak satupun panitia ngasih tahu dia bahwa dia batal main, apalagi minta maaf. Ia tahu bahwa kemungkinan batal waktu itu cukup besar karena jadwal yg ngaret dan lain2, tapi tetap aja antusiasmenya udah sempat timbul. Dan itu semua berubah menjadi kekecewaan. Kekecewaan yg selama beberapa lama hanya ia pendam, karena ia terlalu kesal utk complain.
Hal2 kecil seperti ini memang sangat mudah buat lolos dari perhatian kita. Mungkin karena begitu sederhana sampai2 tidak terpikir oleh otak kita yg biasa dituntut berpikir berat dan rumit. Mungkin juga karena kita sudah merasa akrab dgn seseorang sampai tidak perlu terlalu menjaga perasaan.
Padahal, saling menghargai bukanlah hal yg main2. Menurut Dale Carnegie, penulis buku "Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain" yg menjadi best-seller dunia, dihargai dan diakui org lain bahkan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Hal inilah yg mendorong manusia utk berlomba-lomba meningkatkan dirinya di mata org lain, bahkan org rela berbuat kejahatan besar agar diakui sebagai penjahat yg hebat, atau menipu yang kemudian pasti diikuti oleh ribuan dusta lain. Serangan terhadap ego atau harga diri seseorang merupakan hal yg sangat menyakitkan, yang dlm kasus ekstrim cukup utk menjadikannya seorang pembunuh.
Dan ini bukan sekedar teori. Karena tak tahan lagi, Jerry sampai menyumpahi org2 yg belajar di rumahnya, dan besoknya, sedikitnya dua dari mereka kehilangan benda yg berharga (gua nggak perlu kasih tahu barangnya, nanti ketahuan org yg dimaksud). Mungkin krn perasaannya sangat tertekan ketika itu, Yang Maha Kuasa menganggapnya doa org teraniaya sehingga langsung dikabulkan.
Menghargai org lain tidak berarti kita tidak boleh akrab dgn org lain, apalagi bersikap kaku. Kita hanya perlu sedikit peka utk bisa merasakan perasaan org lain, bagaimana kira2 perasaan dia atas tindakan kita. Bila ia merasa dirugikan atau tidak dihargai, ya jangan lakukan, cari jalan lain. Atau setidaknya minta maaflah dgn tulus. Dgn begitu paling nggak dia tahu kita sebenarnya peduli sama dia, walaupun keadaan memaksa kita berbuat demikian.
Yah, walaupun seperti kata Elton John, "sorry seems to be the hardest word to say"...

Recent Comments