Iklan Tahun 90-an...

Setting: beranda rumah/villa
Dramatis Personae: Sri (S), Cowok Keren (CK)

CK sedang duduk di tangga beranda, motor gedenya diparkir di sebelahnya. S keluar dari rumah ke beranda dan mendengar CK berbicara.

CK: Sri... aku sayang kamu...
S: (ke dirinya sendiri) Dia tahu namaku?
CK: Aku ingin selalu bersamamu, Sri...
S: (ke CK) Mmm... maksudmu... aku?
CK: (menyadari S memperhatikannya sejak tadi, tersenyum) Bukan, tapi Sri yang ini. (menunjukkan kotak rokok) Gudang Garam Sriwedari.
S: (kecewa) Oh...
CK: Tapi sebenarnya... aku juga suka kamu.
S: (sumringah) YESS!!!

Pasangan baru itu pun mengobrol di tangga beranda. Kamera zoom out, menampilkan close-up kotak rokok Gudang Garam Sriwedari.

Huahaha... iklan jadul banget tuh... Tapi gua nggak hafal kata-kata indahnya si CK, jadi ngarang sendiri.
BTW nama Sri, yang dimodifikasi jadi Shri, gua pakai untuk memanggil salah satu orang yang cukup "dekat" dengan gua. Padahal nama dia nggak ada Sri-nya...

UPDATE: Iseng2 browsing, dapatlah gambar kotak rokoknya! Kecil sih...I

Teori-teori Lain

Ini lanjutan dari salah satu post lama gua, "Arya Antaputra, Nyatakah Dia?". Disarankan untuk membaca post itu dulu biar lebih mengerti.

Selain halusinasi massal, ada beberapa teori lain yang mencoba menjelaskan keberadaan Arya. Beberapa di antaranya dibahas di sini.

  • Teori Matrix (Matrix Theory)
    Tidak hanya Arya yang tidak nyata, seluruh dunia yang kita kenal ini juga tidak nyata. Sebenarnya selama ini tubuh fisik kita tertidur dan otak kita terhubung ke sebuah superkomputer melalui kabel yang terpasang ke belakang leher kita, dan dunia yang kita kenal selama ini cuma seperti mimpi. Wachowski bersaudara benar!
  • Teori Masa Kecil (Infancy Theory)
    Mahasiswa/i ITB terdiri atas sekitar 0,5% putra-putri terbaik Indonesia. Mungkinkah sebenarnya ketika masih kecil (bayi) mereka diberi terapi khusus untuk mencapai tingkat kecerdasan yang akhirnya mengantarkan mereka masuk ITB, dan "Arya" merupakan side effect dari terapi itu? Untuk mengkonfirmasi teori ini, bisa dilihat catatan masa kecil mahasiswa/i ITB.
  • Teori Nyata (Real Theory)
    Teori ini merupakan teori yang diterima oleh mayoritas warga ITB, terutama rektorat. Isinya sederhana saja: Arya Antaputra memang ada, dan orang-orang yang meragukan keberadaannya terlalu banyak membaca teori konspirasi dan/atau terlalu banyak memeras otak.
  • Teori Topeng (Mask Theory)
    Ada sekelompok orang, kemungkinan warga ITB, yang menghidupkan tokoh "Arya Antaputra" dengan secara bergantian mengenakan topeng, menggunakan pengubah suara, dan meniru perilaku Arya. Besar kemungkinan mereka ini sedang dalam terapi pelepasan stres dan menggunakan topeng Arya untuk melindungi diri dari rasa malu selama menjalani terapi.
  • Teori Hantu (Spirit Theory)
    Arya Antaputra sebenarnya adalah makhluk halus. Para pendukung teori ini menunjukkan bukti berupa gerak-gerik Arya yang kadang membahayakan dirinya sendiri dan kecenderungannya untuk bicara dan tertawa sendiri, juga kecenderungannya muncul dan menghilang tiba-tiba.

Anda punya teori lain lagi? Silakan tambahkan di Comments...

Arya Antaputra, Nyatakah Dia?

Kontroversi tak pernah lepas dari sosok yg satu ini. Ada yg menganggapnya aneh, ada yg menganggapnya baik hati. Ada yg menyebutnya pembuat gaduh, ada yg melihatnya selalu diam. Ada yg menyebutnya cuek, tapi ada juga yg menyebutnya setia kawan. Sekarang, muncul pertanyaan baru: apakah Arya Antaputra benar2 ada?

Kebanyakan org secara spontan akan menjawab "ya" pd pertanyaan tersebut. Bagaimana tidak, hampir setiap hari ia terlihat dan mengikuti kuliah di Institut Teknologi Bandung. Ia punya keluarga, riwayat hidup, alamat tempat tinggal, dan tentu saja teman. Sebagian org bahkan merasa berhubungan dekat dgn Arya.

Lalu, mengapa eksistensinya dipertanyakan?

Bila diperhatikan, banyak terdapat kejanggalan pd diri dan kehidupan Arya. Yg paling terlihat tentu saja sikap dan tingkah lakunya yg seringkali aneh. "Energinya seperti tak terbatas, terus bergerak, bernyanyi, dan tertawa-tawa," tutur seorang mahasiswa ITB. "Ngomongnya aneh banget, kadang2 saya bingung dia waras atau tidak," timpal mahasiswa lain.

Arya juga seringkali muncul dan menghilang tanpa diduga-duga. Ia jarang berbicara utk menanggapi org; bila berbicara, biasanya ia mengangkat topik yg hanya dipahaminya sendiri. Kadang2 keberadaannya tidak disadari org di sekitarnya, seakan ia tidak di sana.

Semua fenomena ini lambat laun menimbulkan pertanyaan: apa Arya itu nyata?

Menurut Dimas (nama samaran), seorang psikolog dari Institut Psikologi Indonesia, keberadaan Arya dapat merupakan gejala dari halusinasi massal. Ini merupakan sebuah fenomena yg sangat jarang terjadi, dan biasanya direkayasa dgn obat2an atau terapi tertentu. "Cara ini pernah digunakan oleh Nazi Jerman pada Perang Dunia II, dan ada kemungkinan juga digunakan oleh rezim Milosevic di Serbia," contohnya.

"Dgn pengaturan pola pikir yg tepat, bayangan yg sama dapat diatur agar muncul dlm pikiran tiap org. Ini yg menyebabkan wujud fisik Arya yg dilihat tiap org rata2 serupa," tambahnya.

Mengenai perilaku Arya yg bervariasi, "Kemungkinan besar, sosok Arya memang dirancang utk memenuhi kebutuhan psikologis atau fantasi individu, yg pada tiap org kadarnya berbeda. Ia juga dapat merupakan simbol utk pemanggilan memori dari alam bawah sadar."

Menghadapi dunia yg semakin kompleks dan membingungkan ini, memang banyak org mengalami depresi dan melarikan diri secara psikologis, termasuk menggunakan alkohol dan obat2an. "Bagi banyak org, sosok Arya mungkin merupakan terapi yg efektif, baik sebagai pelarian atau pelampiasan fantasi2 liar."

Lalu, siapa yg merekayasa Arya Antaputra? Dugaan terkuat jatuh pada ITB sendiri. "Suasana ITB yg kompetitif dan penuh konflik menimbulkan kelelahan yg memudahkan halusinasi massal yg terkendali dilakukan," menurut Luthfi (nama samaran), seorang pakar psikologi massa. Tambahnya lagi, ITB mempunyai sumber daya yg cukup utk melakukan hal tsb. "Soal riwayat hidup dan dokumen2 lain, itu soal kecil. Ingat, ini Indonesia!" katanya setengah berkelakar.

Untuk apa ITB berbuat demikian? "Pada tahap lanjut, halusinasi massal dapat digunakan utk mengendalikan massa secara total," lanjut Luthfi. "Yang kita lihat sekarang ini baru awal."

"Ini dapat merupakan proyek kerjasama ITB dgn kekuatan lain, baik dalam negeri maupun asing. Eksperimen sebesar ini pasti menghasilkan pemasukan yg sangat besar bagi ITB," tambah Dimas. Nilai proyek ini, bila memang benar2 ada, diperkirakannya mencapai puluhan milyar rupiah.

Saska (nama samaran), seorang aktivis KM-ITB, menduga proyek ini juga berhubungan dgn memburuknya hubungan rektorat dgn mahasiswa. "(ITB) dgn mudah bisa memanipulasi pikiran mahasiswa agar mengikuti kemauan mereka. Pembubaran himpunan, pembubaran KM, DO mahasiswa, dan manuver2 lain dapat dilakukan tanpa perlawanan," jelasnya. "Apalagi, proyek ini dapat menghasilkan dana besar. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui."

Seperti dapat diduga, pihak ITB sendiri membantah keras tuduhan2 tersebut. "Tidak benar itu, masa kami mengorbankan mahasiswa menjadi kelinci percobaan? Benar2 mengada-ada," kata Wakil Rektor Bidang Riset saat ditemui di kantornya di Rektorat ITB, Jl. Tamansari 64.

"Nama Arya Antaputra memang terdaftar sebagai mahasiswa di sini. Data2nya lengkap, kalau mau nanti silakan lihat. Dan dia sering ada di kampus kan? Masa masih dibilang tidak nyata? Sepertinya mereka perlu refreshing, nanti saya usulkan ke Bapak Rektor bikin acara wisata," tambahnya bercanda. Beliau sendiri mengaku blm pernah bertemu dgn Arya.

Bagaimanapun juga, misteri Arya telah menyebabkan munculnya berbagai teori di kalangan mahasiswa (lihat: Teori-teori Lain). Sebagian mahasiswa bahkan meluangkan sebagian waktunya utk menyelidiki misteri ini lebih jauh. "Gue udah ke Jakarta, lihat rumahnya, ngobrol sama teman2nya. Kalau gue sendiri sih sekarang yakin Arya emang ada," kata Ayu (EL '04).

"Kalau saya masih blm yakin. Semua itu bisa rekayasa. Org2 yg saya wawancara kebanyakan hanya mengenalnya secara umum, dan yg lebih akrab pun hanya ingat sepotong2. Jangan2 ingatan mereka juga dimanipulasi," kata Syawal (TI '03).

Apa yg menyebabkan Syawal, Ayu, dan banyak mahasiswa lain rela mengorbankan waktu, tenaga, dan uang utk menyelidiki Arya, apalagi mengingat tuntutan akademik ITB saat ini sudah semakin berat? Ayu menjawab bersemangat, "Seru aja. Jarang kan ada kasus seperti ini. Lagipula gue jadi banyak teman baru, dari org2 yg ngasih informasi dan dari anak ITB sendiri yg mau tahu progress gue."

"Sebenarnya saya lebih senang beraktivitas di unit. Tapi skrg kita banyak dapat tekanan dari atas [rektorat ITB, red.]. Sulit bikin acara. Jadi sambil tetap aktif di unit, saya coba kegiatan baru. Lumayan, teman2 juga mulai tertarik," kata Syawal, yg diiyakan oleh beberapa temannya.

Bagi mahasiswa ITB, keberadaan Arya memang memberi kesan tersendiri. "Gue sih senang aja ngelihatnya. Aneh, lucu. Lain dari yg lain," komentar Duwita (BI '02).

"Dia baik banget. Senang foto2, nggak tahu tuh buat apa," kata Hariza (TL '03).

"Aneh aja. Yg gua nggak suka, dia senang cari2 perhatian. Berasa seleb," kata Bona (TM '03).

Nah, bagaimana pendapat Anda?

Tampil, Pak!

Dramatis Personae:
Arya. Lulusan ITB. Keterangan lainnya ada di profile.
Pewawancara. Ramah, sopan, komunikatif.

Lokasi: Ruang Wawancara

(Pewawancara sedang duduk di balik meja. Terdengar ketukan di pintu)

Pewawancara (P): Masuk!

(Arya masuk)

P: Selamat pagi. Silakan duduk! Boleh saya lihat mapnya?
Arya (A): Oh, silakan. (menyerahkan amplop)
P: Hmmm... Arya Antaputra. Saya bisa panggil apa, Mas?
A: Arya saja.
P: OK. Silakan duduk, Mas Arya.

(keduanya duduk)

P: (membuka-buka map) Apa yang membuat Mas Arya tertarik untuk melamar kerja di perusahaan ini?
A: Yah, fasilitas yang ditawarkan menarik, dan gajinya juga cukup besar.
P: Oh, begitu. (melihat ijazah S-1) Oh, Mas Arya lulusan ITB? Teknik Elektro pula! Pintar dong Mas Arya ini!
A: (tertawa sopan) Ah, biasa saja sih, Pak.
P: (melihat lembar berikutnya, transkrip nilai) Oh, iya sih. IP-nya kecil.

(P melihat-lihat berkas lainnya, lalu kembali menatap A)

P: Sekarang mari kita bicara mengenai minat. Seperti kita ketahui, kalau pekerjaan kita sesuai dengan minat biasanya kita akan lebih bersemangat dalam mengerjakannya. Minat atau hobby Mas sendiri apa?
A: (berpikir) Ada beberapa sih, tapi yang utama ada dua. Yang pertama, main game.
P: Oh, main game? Game seperti apa?
A: Biasanya sih yang action, tembak-tembakan gitu Pak. Tapi strategi dan RPG saya juga suka. Sebenarnya hampir semua jenis game saya suka.
P: Wah, gamer sejati kelihatannya! Ada rencana mau jadi game designer mungkin?
A: Maunya sih begitu, Pak. Sampai sekarang saya masih belajar.
P: Oh begitu. Bagus, bagus. Tadi katanya hobby Mas ada dua. Yang satu lagi apa?
A: Oh, yang satu lagi? (terlihat malu-malu) Wah, gimana ya, Pak? Susah dijelaskan, sih. Tapi, dalam satu kata... Itu, Pak... (tiba-tiba menjadi sumringah) TAMPIL, PAK!!

(masuk lagu "Si Raja Tampil")

Padi Tahan Hama

(ide cerita ini udah lumayan lama, tp gua bingung bagian tengahnya... Sabar ya)

Ini kisah ttg padi tahan hama. Armand dan Ikhsan adalah dua org yg menempati sebuah rumah kontrakan. Armand tergila-gila dgn gadis cantik bernama Renita yg kebetulan teman Ikhsan, tp sayangnya Renita sama sekali tidak tertarik padanya.

Suatu hari, sebuah paket tanpa alamat pengirim maupun penerima tiba di kontrakan Armand dan Ikhsan. Saat dibuka, ternyata isinya adalah beras. Karena sehari sebelumnya Ikhsan memang memesan beras, mereka pun memakannya tanpa curiga.

Besoknya, mereka berdua berubah 180 derajat. Ikhsan menjadi suka beraksi gila2an bagai penantang maut, yg membuat seorang produser reality show tertarik membuat acara dgn dia sebagai bintangnya.
Sementara, Armand menjadi sangat gentle dan jago melukis. Renita yg ternyata suka melukis pun mulai tertarik padanya, dan hubungan mereka semakin dekat.

Tetapi, sebulan kemudian Armand dan Ikhsan kembali menjadi diri mereka yg sebelumnya. Sang produser pun panik krn Ikhsan tidak lagi bisa melakukan aksi2 berbahaya, padahal syuting blm selesai, bahkan akan ada acara spesial. Sementara, Armand sama sekali tidak ingat cara melukis, padahal ia dan Renita akan mengikuti pameran dlm beberapa hari.

Keadaan menjadi runyam. Produser Ikhsan mengancam akan menuntutnya ke pengadilan bila ia tidak dapat menyelesaikan kontrak. Armand pun kebingungan mencari cara agar tidak mengecewakan Renita pd pameran tsb.

Pada saat terakhir, mereka berdua memutuskan utk datang dan menghadapi tanggung jawab mereka masing2. Dgn menaiki motor stunt Ikhsan, mereka melesat menuju lokasi pameran dan syuting yg kebetulan berdekatan. Armand berhasil tiba pada waktunya dan dapat mengikuti pameran dgn kemampuan seadanya, tetapi Ikhsan mengalami kecelakaan pada saat syuting yg mengakibatkan kerusakan yg sangat besar. Akibatnya, sang produser harus membayar ganti rugi yg besar, ditambah biaya perawatan Ikhsan, dan produksi film dihentikan.Sementara, Renita mengucapkan selamat tinggal pada Armand krn ia merasa hati Armand telah berubah. Mereka kembali menjadi teman biasa...

Sementara itu, di sebuah markas rahasia, seorang kurir dihukum krn menghilangkan satu paket kiriman berbahaya.

Manusia Pemangsa Serigala

Kisah ini berawal ketika aku hendak berangkat ke Tokyo dari Toronto, Kanada. Aku menggunakan pesawat JAL waktu itu, dan menurut ramalan cuaca di bandara penerbangan akan berlangsung mulus. Tapi musibah terjadi, saat melintas di atas dataran Alaska, pesawat mengalami turbulensi dan jatuh. Dari 220 penumpang dan awak pesawat hanya sekitar 70 org yg selamat. Pilot dan kopilot keduanya tewas.

Untungnya salah satu penumpang ternyata adalah seorang pendaki gunung yg sudah sangat berpengalaman di medan bersalju. Ia berkata bahwa kami harus segera mencari tempat perlindungan, bukan saja dari udara dingin, tapi juga dari kawanan serigala yg banyak berkeliaran di daerah itu. Benar saja, baru saja kami hendak bergerak, sekawanan serigala datang menyerang dan mengepung kami. Bersenjatakan batang kayu dan potongan pesawat, kami berhasil mengusir mereka, tetapi 14 org, termasuk 5 anak kecil, tewas diterkam serigala.

Tanpa menunda lagi kami pun memulai perjalanan. Si pendaki gunung yg ternyata bernama Alan memimpin rombongan menuju kaki sebuah gunung, dgn harapan akan menemukan gua yg dpt dijadikan perlindungan. Para korban yg terluka digotong dgn tandu2 yg dirakit dari puing2 pesawat. Kami juga membawa apapun yg bisa berguna, termasuk makanan dan sebuah pistol isyarat. Setelah beberapa lama kami tiba di kaki gunung tersebut, dan menemukan sebuah gua yg cukup luas. Kami pun memutuskan untuk bermalam di gua itu.

Malam itu aku sempat berbincang-bincang dgn Alan. Ia bercerita banyak ttg pengalaman mendakinya, termasuk di puncak tertinggi dunia, Everest. Dijelaskannya juga berbagai kiat bertahan hidup di alam liar, termasuk jenis2 jamur dan tanaman liar yg aman dimakan dan - ini yg unik - dipercaya mempunyai kekuatan magis. Sepertinya Alan pernah tinggal bersama suku Indian atau penduduk asli lain, tapi aku tidak menanyakannya. Alan mengatakan bahwa besok ia akan pergi mencari bantuan. Aku menawarkan diri untuk ikut.

Esoknya kami berangkat saat matahari baru terbit. Ada 5 org dlm kelompok kami: Yuzo Ishikawa, seorang mahasiswa Universitas Tokyo yg anggota klub pecinta alam. Lalu ada Tony dan Michael Gallagher, sepasang kakak-beradik asal Manchester. Berikutnya Alan, dan aku sendiri. Di antara kami berlima, hanya aku yg tidak punya pengalaman hidup di alam bebas. Gallagher bersaudara saja sudah sering pergi berkemah dan mancing bersama ayah mereka yg merupakan anggota SAS (Special Air Service, pasukan khusus Inggris). Aku cuma tidak tahan untuk terus diam di gua perlindungan. Aku ingin berbuat sesuatu, dan belajar sesuatu dari orang-orang pemberani ini.

Singkatnya, di tengah perjalanan kami kembali diserang segerombolan serigala. Saat itu ada sekitar 30 ekor serigala yg mengelilingi kami. Aku ingat melihat Michael meronta-ronta, berusaha melepaskan diri dari empat serigala yg mencabik-cabik tubuhnya. Tony sudah lebih dulu roboh dgn bersimbah darah. Aku dan Yuzo tdk dapat mencapai posisi Michael karena juga sedang dikelilingi belasan serigala, dan hanya bisa berusaha menakut-nakuti para penyerang kami dgn sebatang kayu.

Yang terlihat aneh adalah Alan. Di tengah keadaan chaos itu ia tampak seperti org teler, berjalan terayun-ayun kesana-kemari. Tapi walaupun demikian, tak satupun serigala yg berhasil menerkamnya, karena dgn lincah ia selalu bisa berkelit dan menghindar. Ia terlihat seperti master kungfu aliran dewa mabuk yg banyak digambarkan dlm cerita-cerita silat.

Belum habis rasa heranku, tiba2 terdengar suara jeritan. Aku menoleh dan melihat Yuzo sudah digigit lehernya oleh seekor serigala berukuran besar. Aku berteriak dan bergegas datang untuk menolongnya, tapi sedetik kemudian sesuatu menghantamku dari belakang sampai aku terjerembab ke tanah. Aku tak perlu melihat untuk tahu apa yg menabrakku. Suara menggeram dan napas panas serigala abu-abu mengusap belakang leherku. Baru sekarang aku merasa takut. Aku tak bisa bergerak.

Saat itulah aku mendengar seseorang meneriakkan sesuatu dlm bahasa yg tak kupahami, seperti bahasa suku Indian Amerika. Pada saat hampir bersamaan kurasakan berat serigala di punggungku mulai berkurang, lalu menghilang. Apa suara teriakan itu membuat serigala takut? Perlahan-lahan aku mencoba berdiri, dan kemudian kudengar suara sesuatu jatuh di belakangku. Ternyata itu adalah serigala yg tadi menerkamku; aku tak merasakan beratnya sama sekali.

Aku melihat berkeliling. Entah mengapa, perhatian semua serigala kini tertuju padaku. Mereka mendekat dari segala arah, tapi ada rasa takut terlihat di mata mereka yg kelabu. Sekilas aku bertanya dlm hati, apa yg menyebabkan ketakutan itu? Padahal jelas seharusnya akulah yg ketakutan dan panik, tapi aku sama sekali tak merasakannya...

Detik berikutnya pertanyaanku terjawab. Seperti org kerasukan, tubuhku bergerak dgn sendirinya, melompat begitu tinggi dgn kekuatan yg entah datang dari mana. Aku mendarat tepat di atas seekor serigala besar dan gigiku dgn sendirinya langsung mencabik nadi lehernya. Darah segar menyembur dgn deras. Seekor serigala lain melompat hendak menerkamku, tapi tangan kiriku langsung menangkapnya di udara dan menghempaskannya ke tanah. Kemudian tangan kananku menusuk menembus dagingnya dan meremas jantungnya sampai remuk. Pemandangan yg mengerikan, tapi ada sesuatu dlm diriku yg merasa puas. Dan lebih mengerikan lagi, aku tahu sesuatu itu merasa lapar.

Tak banyak lagi yg kuingat selain itu, selain cipratan darah, lolongan kesakitan serigala, dan lebih banyak darah. Tiba-tiba saja, aku sudah duduk bertelanjang dada di tengah2 salju, dengan puluhan bangkai serigala bergelimpangan di sekelilingku. Lalu, dgn perasaan seperti baru bangun dari sebuah mimpi buruk, samar2 aku melihat Alan mendekat.

"Maafkan aku. Aku terpaksa melakukannya demi keselamatan kita," katanya.

Blm sepenuhnya sadar, aku bertanya, "Melakukan... apa?"

Ia tidak menjawab, tapi hanya menunjuk ke sebelah kiriku. Aku terlonjak ngeri saat melihat tubuh seekor serigala yg hancur. Bagian kiri tubuhnya hanya tinggal tulang saja, darah dan beberapa organ tubuhnya berceceran di tanah bersalju. Binatang itu tampak seperti baru dimangsa oleh predator lain yg lebih buas, kuat, dan ganas.

"S... siapa yg melakukannya?" aku bergidik, sebagian krn ngeri dan sebagian krn dinginnya padang bersalju sudah mulai menusuk tulang.

Alan menatapku. "Kau," katanya. Ia terdiam sejenak, lalu kemudian melanjutkan, "Atau lebih tepatnya, roh yg tadi kumasukkan ke dlm dirimu."

Aku tersentak. Gerakan Alan yg seperti tidak sadar... Seruan dlm bahasa Indian... Bangkai serigala yg bergelimpangan...

Sesuatu yg asin terasa di lidahku. Aku menyentuhnya. Darah. Aku mengusap mulutku, dan tanganku langsung dipenuhi warna merah. Semuanya menjadi jelas. Aku benar2 mengalahkan sekelompok serigala sendirian. Dan aku memakan daging mereka.

Aku ingin sekali marah, tapi tidak ada kekuatan di tubuhku utk itu. Maka aku hanya bertanya, "Kauubah jadi apa diriku, Alan?"

Alan kembali terdiam. Sepertinya ia tidak tahu kata2 apa yg harus digunakannya utk menjelaskan padaku. Tapi akhirnya ia menjawab, "Tenang, ini tidak akan membuatmu melukai siapapun, termasuk dirimu sendiri. Roh yg kini menghuni dirimu tidak berbahaya. Kau tetap bisa hidup normal. "Tapi, roh itu kadang2 -- tidak selalu -- akan mengambil alih tubuhmu bila kau, sebagai tubuh yg ditumpanginya, berada dlm bahaya. Kau akan memiliki kekuatan melebihi manusia biasa, bahkan sebagian dpt dikatakan supranatural. Bila roh itu lapar, tubuhmu juga pasti dikuasai olehnya. Dia akan lapar bila merasakan keberadaan satu-satunya makanannya di dekatnya."

"Apa makanannya?" tanyaku. Aku sudah bisa menebak jawabannya.

Alan melihat sekilas ke sisa2 hewan yg teronggok di sampingku. "Serigala," katanya. "Karena itu, bangsa Indian menyebut org yg berisi roh itu... Manusia Pemangsa Serigala."

Mirza dalam lakon "Diculik Sesuatu"

Ini cerita tentang Mirza, seorang pemuda yang sangat ingin menjadi musisi. Suatu malam ia sedang berjalan di trotoar setelah makan di sebuah warung, sekedar ingin menikmati udara malam yang sejuk. Tiba-tiba, sesuatu terbang dengan cepat di langit. Belum sempat ia merasa terkejut, sesuatu itu sudah menyinarinya dengan cahaya yang sangat terang, dan tiba-tiba segalanya menjadi gelap...

Saat Mirza tersadar, ia sudah terbaring tanpa busana di tengah sebuah ruang operasi. Di sekelilingnya berdiri beberapa sosok berpakaian seperti dokter bedah, tetapi mereka bukan manusia; mereka lebih terlihat seperti gurita berkulit logam. Tiba-tiba, salah satu dari mereka bersuara, "UININDAOHDUINDIQBFUNHASJKDNAJKLBFAWNDAS?" Nada suara itu seperti manusia berbicara, tetapi kata-katanya sama sekali tidak seperti bahasa manapun di dunia ini. Mirza tidak bisa berbuat apa-apa selain diam saja. Makhluk itu mulai terlihat kesal. Ia bersuara lagi, "BVNUVGUVHFBAIXNJKADNUBVFUBVFIAWDBWEGUBDF??" Tentu saja Mirza kembali tidak mengerti dan hanya bisa diam. Kini makhluk itu benar-benar kesal.

"DFTDHJVFDUBFHJKO%**^(%*45637645623GHVKGKNKLNL!!" suaranya menjadi lebih keras, tetapi kini Mirza mengerti apa yang dikatakannya, karena kini makhluk itu menggunakan angka; memang angka merupakan bahasa yang universal. Ia pun membalas, "Jangan marah-marah dong, Mas, saya kan nggak ngerti!" Di luar dugaan, makhluk itu menjawab, "Ya lagian dari tadi nggak jawab!" Mirza terkejut. "Lho, sampeyan bisa bahasa Indonesia?!"

Makhluk itu, dan makhluk-makhluk lain di sekeliling Mirza, hanya tersenyum dingin saat ia kembali tersilaukan oleh cahaya terang, dan segalanya kembali menjadi gelap. Saat ia membuka mata, ia menemukan dirinya kembali mengenakan pakaian, bersandar di sebatang pohon jati besar, di trotoar tempatnya berjalan tadi; makhluk-makhluk itu membuatnya tidur sambil berdiri. Masih tidak yakin apakah yang baru dialaminya mimpi atau kenyataan, ia berjalan kembali ke warung tempatnya makan tadi, di mana beberapa orang temannya sedang mengobrol sambil tertawa-tawa. Mirza tak dapat mendengar mereka dengan jelas, tapi saat ia duduk, salah satu temannya yang bernama Aryo bersuara:

"CHJBJNVGFUDNIASGDUANHXDUIGDUHQIOSHIDHOJQHSDUISTYAFTYBGUIGDUA??"