Kontroversi tak pernah lepas dari sosok yg satu ini. Ada yg
menganggapnya aneh, ada yg menganggapnya baik hati. Ada yg menyebutnya
pembuat gaduh, ada yg melihatnya selalu diam. Ada yg menyebutnya cuek,
tapi ada juga yg menyebutnya setia kawan. Sekarang, muncul pertanyaan
baru: apakah Arya Antaputra benar2 ada?
Kebanyakan org secara spontan akan menjawab "ya" pd pertanyaan
tersebut. Bagaimana tidak, hampir setiap hari ia terlihat dan mengikuti
kuliah di Institut Teknologi Bandung. Ia punya keluarga, riwayat hidup,
alamat tempat tinggal, dan tentu saja teman. Sebagian org bahkan merasa
berhubungan dekat dgn Arya.
Lalu, mengapa eksistensinya dipertanyakan?
Bila diperhatikan, banyak terdapat kejanggalan pd diri dan kehidupan
Arya. Yg paling terlihat tentu saja sikap dan tingkah lakunya yg
seringkali aneh. "Energinya seperti tak terbatas, terus bergerak,
bernyanyi, dan tertawa-tawa," tutur seorang mahasiswa ITB. "Ngomongnya
aneh banget, kadang2 saya bingung dia waras atau tidak," timpal
mahasiswa lain.
Arya juga seringkali muncul dan menghilang tanpa diduga-duga. Ia jarang
berbicara utk menanggapi org; bila berbicara, biasanya ia mengangkat
topik yg hanya dipahaminya sendiri. Kadang2 keberadaannya tidak
disadari org di sekitarnya, seakan ia tidak di sana.
Semua fenomena ini lambat laun menimbulkan pertanyaan: apa Arya itu nyata?
Menurut Dimas (nama samaran), seorang psikolog dari Institut Psikologi
Indonesia, keberadaan Arya dapat merupakan gejala dari halusinasi
massal. Ini merupakan sebuah fenomena yg sangat jarang terjadi, dan
biasanya direkayasa dgn obat2an atau terapi tertentu. "Cara ini pernah
digunakan oleh Nazi Jerman pada Perang Dunia II, dan ada kemungkinan
juga digunakan oleh rezim Milosevic di Serbia," contohnya.
"Dgn pengaturan pola pikir yg tepat, bayangan yg sama dapat diatur agar
muncul dlm pikiran tiap org. Ini yg menyebabkan wujud fisik Arya yg
dilihat tiap org rata2 serupa," tambahnya.
Mengenai perilaku Arya yg bervariasi, "Kemungkinan besar, sosok Arya
memang dirancang utk memenuhi kebutuhan psikologis atau fantasi
individu, yg pada tiap org kadarnya berbeda. Ia juga dapat merupakan
simbol utk pemanggilan memori dari alam bawah sadar."
Menghadapi dunia yg semakin kompleks dan membingungkan ini, memang
banyak org mengalami depresi dan melarikan diri secara psikologis,
termasuk menggunakan alkohol dan obat2an. "Bagi banyak org, sosok Arya
mungkin merupakan terapi yg efektif, baik sebagai pelarian atau
pelampiasan fantasi2 liar."
Lalu, siapa yg merekayasa Arya Antaputra? Dugaan terkuat jatuh pada ITB
sendiri. "Suasana ITB yg kompetitif dan penuh konflik menimbulkan
kelelahan yg memudahkan halusinasi massal yg terkendali dilakukan,"
menurut Luthfi (nama samaran), seorang pakar psikologi massa. Tambahnya
lagi, ITB mempunyai sumber daya yg cukup utk melakukan hal tsb. "Soal
riwayat hidup dan dokumen2 lain, itu soal kecil. Ingat, ini Indonesia!"
katanya setengah berkelakar.
Untuk apa ITB berbuat demikian? "Pada tahap lanjut, halusinasi massal
dapat digunakan utk mengendalikan massa secara total," lanjut Luthfi.
"Yang kita lihat sekarang ini baru awal."
"Ini dapat merupakan proyek kerjasama ITB dgn kekuatan lain, baik dalam
negeri maupun asing. Eksperimen sebesar ini pasti menghasilkan
pemasukan yg sangat besar bagi ITB," tambah Dimas. Nilai proyek ini,
bila memang benar2 ada, diperkirakannya mencapai puluhan milyar rupiah.
Saska (nama samaran), seorang aktivis KM-ITB, menduga proyek ini juga
berhubungan dgn memburuknya hubungan rektorat dgn mahasiswa. "(ITB) dgn
mudah bisa memanipulasi pikiran mahasiswa agar mengikuti kemauan
mereka. Pembubaran himpunan, pembubaran KM, DO mahasiswa, dan manuver2
lain dapat dilakukan tanpa perlawanan," jelasnya. "Apalagi, proyek ini
dapat menghasilkan dana besar. Sekali mendayung, dua tiga pulau
terlampaui."
Seperti dapat diduga, pihak ITB sendiri membantah keras tuduhan2
tersebut. "Tidak benar itu, masa kami mengorbankan mahasiswa menjadi
kelinci percobaan? Benar2 mengada-ada," kata Wakil Rektor Bidang Riset
saat ditemui di kantornya di Rektorat ITB, Jl. Tamansari 64.
"Nama Arya Antaputra memang terdaftar sebagai mahasiswa di sini.
Data2nya lengkap, kalau mau nanti silakan lihat. Dan dia sering ada di
kampus kan? Masa masih dibilang tidak nyata? Sepertinya mereka perlu
refreshing, nanti saya usulkan ke Bapak Rektor bikin acara wisata,"
tambahnya bercanda. Beliau sendiri mengaku blm pernah bertemu dgn Arya.
Bagaimanapun juga, misteri Arya telah menyebabkan munculnya berbagai
teori di kalangan mahasiswa (lihat: Teori-teori Lain). Sebagian
mahasiswa bahkan meluangkan sebagian waktunya utk menyelidiki misteri
ini lebih jauh. "Gue udah ke Jakarta, lihat rumahnya, ngobrol sama
teman2nya. Kalau gue sendiri sih sekarang yakin Arya emang ada," kata
Ayu (EL '04).
"Kalau saya masih blm yakin. Semua itu bisa rekayasa. Org2 yg saya
wawancara kebanyakan hanya mengenalnya secara umum, dan yg lebih akrab
pun hanya ingat sepotong2. Jangan2 ingatan mereka juga dimanipulasi,"
kata Syawal (TI '03).
Apa yg menyebabkan Syawal, Ayu, dan banyak mahasiswa lain rela
mengorbankan waktu, tenaga, dan uang utk menyelidiki Arya, apalagi
mengingat tuntutan akademik ITB saat ini sudah semakin berat? Ayu
menjawab bersemangat, "Seru aja. Jarang kan ada kasus seperti ini.
Lagipula gue jadi banyak teman baru, dari org2 yg ngasih informasi dan
dari anak ITB sendiri yg mau tahu progress gue."
"Sebenarnya saya lebih senang beraktivitas di unit. Tapi skrg kita
banyak dapat tekanan dari atas [rektorat ITB, red.]. Sulit bikin acara.
Jadi sambil tetap aktif di unit, saya coba kegiatan baru. Lumayan,
teman2 juga mulai tertarik," kata Syawal, yg diiyakan oleh beberapa
temannya.
Bagi mahasiswa ITB, keberadaan Arya memang memberi kesan tersendiri.
"Gue sih senang aja ngelihatnya. Aneh, lucu. Lain dari yg lain,"
komentar Duwita (BI '02).
"Dia baik banget. Senang foto2, nggak tahu tuh buat apa," kata Hariza (TL '03).
"Aneh aja. Yg gua nggak suka, dia senang cari2 perhatian. Berasa seleb," kata Bona (TM '03).
Nah, bagaimana pendapat Anda?
Recent Comments