It's hard for one to pursue a better life..

... when a part of one's self just wants to die.

(Hahaha, do I sound depressed? Don't worry...)

Happy Islamic New Year!

Hm, sebenarnya udah telat sehari, tapi hari Idul Fitri juga tiap tahun jadi kontroversi kan?

So,
Happy Islamic New Year 1428 H!

Wah, dobel tahun baru harusnya dobel resolusi nih... Blm bikin jg sampai sekarang... :-P
 

Kebebasan adalah matinya harapan...

Kalimat di atas gua dengar pertama kali dari tetangga depan kost gua, Dhito. Dia sendiri mendengar ucapan itu dari temannya. Iseng2 search di Google, ternyata kata2 itu juga muncul di salah satu karya seseorang bernama J. Michael Straczynski, yang ternyata adalah pengarang Babylon 5 dan juga pernah kerja buat Marvel Comics.

Benar nggak sih kata-kata itu? Menurut gua sih bisa jadi benar. Bukankah dengan kita punya harapan, apa yang kita lakukan dalam hidup jadi mengarah pada pemenuhan harapan itu? Harapan menjadi sesuatu yang mengikat dan kita biasanya jadi nggak bersedia melakukan sesuatu yang kita takutkan akan menjauhkan kita dari pemenuhan harapan itu. Pengejaran terhadap sesuatu yang kita harapkan bisa menimbulkan penderitaan, terlebih kalau harapan itu nggak tercapai, atau lebih parah lagi, ternyata apa yang kita harapkan itu sia-sia.

Di sisi lain, hidup tanpa harapan juga kosong. Buat apa kita hidup kalau nggak ada tujuannya? Bebas, terombang-ambing, melayang-layang, tapi akhirnya nggak bermakna...

Hahaha, pembahasannya jadi ngeracau gini... Sebenarnya sih intinya gua lagi mikir: apakah sebaiknya gua memilih harapan atau kebebasan?

Toh saat gua punya kebebasan, gua bebas untuk menciptakan harapan-harapan baru...

Semester 7 postmortem...

Sebenarnya gua lg haus dan sepeda gua masih di RK, sementara gua di HME. Tp nggak apa deh, ngetik blog dulu sebentar.

Kenapa judulnya postmortem? Secara harfiah, postmortem itu artinya "setelah kematian", tapi dalam konteks ini maksudnya pembahasan setelah sesuatu berakhir, dalam hal ini semester ketujuh gua di ITB.

Sebelum mulai, hari ini gua ngerasa agak nyesel. Temen2 kls 2 SMA gua tadi pada reunian gitu di PIM, dan gua nggak ikut krn masih di ibukota Jawa Barat. Alasannya? Pertama, gua pingin nyelesaiin beberapa kerjaan yg ketunda dari entah kapan di Bandung. Kedua, gua pikir nggak bakal rame. Ternyata, reuninya rame. Dan kalau dipikir-pikir, sebenarnya bisa aja gua pulang hari ini dan besok ke Bandung lg, walaupun risikonya kena marah org2 rumah yg juga lagi butuh gua. Yah, krn Senin ada yg gua tunggu, hehe...

OK, kembali ke postmortem. Semester ini nilai gua ancur lagi. Argh... GIla2an, padahal gua ngerasa udah belajar lebih banyak dari yg dulu2, tapi ternyata blm cukup utk dapetin nilai bagus. Emang sih, semester ini kuliah gua nggak ada yg enak dlm arti mudah dipelajari, dipahami, dan dapat nilai A/B. Juga ada dosen Ng_____ yg populasi nilai E di kelasnya paling gede dibanding huruf2 lain, padahal udah ngasih UAS sampai 3 kali (sebenarnya gua bingung dia nilainya berdasarkan apa sih, soalnya beberapa soalnya udah dibahas dan ujiannya open book, jadi tinggal nyalin, tapi tetep aja E paling banyak). Aarrgghhhh....

Semester ini clash berkepanjangan dengan salah satu teman gua juga bisa dibilang berakhir. Yah, melegakan juga sih, sebenarnya dia cukup menyenangkan, tapi sempat ada ketidakcocokan paradigma. Tapi itu sudah berakhir.

Eh, tapi malah muncul lagi konflik baru sama org lain! Seseorang yang walaupun dikenal sering ribut sama org2 di sekitarnya tapi selama ini cukup bisa get along sama gua. Dan yg lebih ngeselin lagi, alasannya konyol bgt, cuma gara2 sengketa wewenang yang nggak penting! Kacaulah... Tapi bedanya dengan org di paragraf sebelumnya, di sini dia yg lebih menderita, agak2 dikucilin gitulah. Hahh, gocap tambah gocap...

Hm, dan semester ini gua juga mutusin buat deketin seorang dari kaum Hawa, setelah lama merasa content dengan status jomblo. Gadis ini manis, supel, ramah, aktif, wangi (banget), senyumnya juga menghangatkan... (mohon diingat ini adalah opini subjektif dari seorang yang infatuated dengan gadis yang bersangkutan, tapi semuanya bisa dipertanggungjawabkan kok, hehe) Tapi nggak perlu waktu terlalu lama untuk ngerasain bahwa ada sesuatu yg terus mengganggu perasaannya. Dan bicara soal perasaan, dia bilang dia lagi 'mati rasa' waktu gua tanya tentang relationship. Well, at least gua mau jadi temannya dulu deh, dan lihat lg setelah itu... (tapi sampai sekarang kalau gua SMS seringan nggak dibales, aarrgghhh...)

Terus, dari tadi gua cerita doang... Gimana solusinya? Hm, blm tahu sih, nanti sekalian gua gabung sama resolusi 2007 aja deh. Udah tanggal 13 nih, gua blm nulis resolusi apa2, padahal tahun baru itu salah satu momentum perubahan yg efektif.

Eh, tgl 13? Berarti tepat setahun setelah Great Theft, 13 Januari 2006 dulu. Buat yg blm tahu, waktu itu gua kecurian hampir semua benda berharga gua. Tapi dengan usaha dan pertolongan Tuhan sih sekarang yg pada hilang itu udah ada penggantinya, walaupun kamera masih yg 1,3 MP di HP, hehe.

Hm, untung juga gua nulis blog sekarang, ternyata lagi mood banget... Udah ah, kasihan Fuzzy. Kapan2 gua nulis tentang sepeda gua itu deh... Da svedanya!

Happy Idul Adha & New Year!

Another greeting from me to Impulses visitors...

Happy Idul Adha and Happy New Year!

Waktu kurbanan kemarin gua jadi panitia kurban dan ngeliat pertama kalinya sapi disembelih. Ternyata kaya gitu ya caranya... Sapinya diikat kaki2nya, ditarik biar jatuh, terus lehernya digorok biar darahnya keluar. 8 detik kemudian sapinya mati kehabisan darah. Gruesome... Ada fotonya sih, tapi blm dimasukin flashdisk...

Tahun baru di rumahnya Indri, nun jauh di Sariwangi. Enak juga sih kaya villa, kenalan sama dua teman baru, teman Indri di Astronomi...

It's Xmas!!

Hey fans! Berhubung hari ini tanggal 25 Desember, gua mau ngucapin

Selamat Berhari Natal

buat yg ngerayain, semoga hari ini menyenangkan dan kita semua semakin dekat dengan Yang Maha Kuasa...

(hm, padahal pas Lebaran gua nggak nulis apa2 di sini, hahaha)

Identitas...

Gua baru sadar, ternyata gua punya kebiasaan yang cukup buruk. Apa itu?

Kalau ngasih kado orang, suka lupa gua kasih nama sendiri, atau tanda tangan. Biasanya itu karena gua ngerasa toh kado/kartunya udah gua desain sendiri, jadi udah ada identitas gua, padahal kan nggak semua orang ngerti lambang peté gua.

Hm, bukannya gimana2 ya, cuma kan nggak enak ngasih barang ke orang lain tanpa identitas. Kesannya gua jadi kaya secret admirer gt, padahal gua udah kenal orangnya, hehe... Lagipula tulisan tangan bisa ngasih kesan yang lebih manusiawi.

Semoga nggak terulang lagi deh...

SEMPRENGKENG!!

Orang-orang yang sering berada di sekitar gua tentu sering ngedengar gua mengucapkan kata di atas. "SEMPRENGKENG!!!" Dan biasanya yang baru dengar akan mengajukan pertanyaan yang sangat wajar:

"Apaan sih artinya?"

Hm, apa ya? Sebenarnya sih nggak ada. Kata 'semprengkeng' itu kata yang multifungsi. Bisa digunakan misalnya sebagai:

  • Umpatan/pengungkap kekesalan yang nggak menyinggung siapa-siapa, beda dengan 'brengsek' atau 'bangsat' yang udah dianggap kata kasar.
  • Kata trademark yang gua banget.
  • Indikator seberapa banyak gua udah mempengaruhi orang (akhir2 ini udah ada teman gua yang mulai make kata itu)
  • Pemancing tawa, karena banyak yg nganggap bunyi kata itu lucu.
  • Nick main CS kalau lagi dipecundangi, biar nggak ngerusak image nick utama gua, hehe.
  • Kata buat ngatain adik bungsu gua yang entah kenapa sebel kalau gua panggil itu. Diduga sih karena dekat dengan kata (King) Kong.
  • dan banyak lagi...

Kalau mengenai asal katanya, 'semprengkeng' itu plesetan dari Sempalong dan Brengkolang. Dua kata itu adalah nama file penyebar virus Brontok yang dulu sempat menghebohkan kota Bandung, termasuk ITB. Mungkin si pembuat Brontok sebel ya, tapi toh dia nggak bakal protes karena itu bakal ngebongkar identitasnya, yang sama aja dengan mengantar nyawa, hahaha!

Jadi, kalau loe kesal, iseng, suka dengan kata itu, atau apa aja, jangan lupa dengan ucapan yang sangat indah...

SEMPRENGKENG!!!

Teori-teori Lain

Ini lanjutan dari salah satu post lama gua, "Arya Antaputra, Nyatakah Dia?". Disarankan untuk membaca post itu dulu biar lebih mengerti.

Selain halusinasi massal, ada beberapa teori lain yang mencoba menjelaskan keberadaan Arya. Beberapa di antaranya dibahas di sini.

  • Teori Matrix (Matrix Theory)
    Tidak hanya Arya yang tidak nyata, seluruh dunia yang kita kenal ini juga tidak nyata. Sebenarnya selama ini tubuh fisik kita tertidur dan otak kita terhubung ke sebuah superkomputer melalui kabel yang terpasang ke belakang leher kita, dan dunia yang kita kenal selama ini cuma seperti mimpi. Wachowski bersaudara benar!
  • Teori Masa Kecil (Infancy Theory)
    Mahasiswa/i ITB terdiri atas sekitar 0,5% putra-putri terbaik Indonesia. Mungkinkah sebenarnya ketika masih kecil (bayi) mereka diberi terapi khusus untuk mencapai tingkat kecerdasan yang akhirnya mengantarkan mereka masuk ITB, dan "Arya" merupakan side effect dari terapi itu? Untuk mengkonfirmasi teori ini, bisa dilihat catatan masa kecil mahasiswa/i ITB.
  • Teori Nyata (Real Theory)
    Teori ini merupakan teori yang diterima oleh mayoritas warga ITB, terutama rektorat. Isinya sederhana saja: Arya Antaputra memang ada, dan orang-orang yang meragukan keberadaannya terlalu banyak membaca teori konspirasi dan/atau terlalu banyak memeras otak.
  • Teori Topeng (Mask Theory)
    Ada sekelompok orang, kemungkinan warga ITB, yang menghidupkan tokoh "Arya Antaputra" dengan secara bergantian mengenakan topeng, menggunakan pengubah suara, dan meniru perilaku Arya. Besar kemungkinan mereka ini sedang dalam terapi pelepasan stres dan menggunakan topeng Arya untuk melindungi diri dari rasa malu selama menjalani terapi.
  • Teori Hantu (Spirit Theory)
    Arya Antaputra sebenarnya adalah makhluk halus. Para pendukung teori ini menunjukkan bukti berupa gerak-gerik Arya yang kadang membahayakan dirinya sendiri dan kecenderungannya untuk bicara dan tertawa sendiri, juga kecenderungannya muncul dan menghilang tiba-tiba.

Anda punya teori lain lagi? Silakan tambahkan di Comments...

Arya Antaputra, Nyatakah Dia?

Kontroversi tak pernah lepas dari sosok yg satu ini. Ada yg menganggapnya aneh, ada yg menganggapnya baik hati. Ada yg menyebutnya pembuat gaduh, ada yg melihatnya selalu diam. Ada yg menyebutnya cuek, tapi ada juga yg menyebutnya setia kawan. Sekarang, muncul pertanyaan baru: apakah Arya Antaputra benar2 ada?

Kebanyakan org secara spontan akan menjawab "ya" pd pertanyaan tersebut. Bagaimana tidak, hampir setiap hari ia terlihat dan mengikuti kuliah di Institut Teknologi Bandung. Ia punya keluarga, riwayat hidup, alamat tempat tinggal, dan tentu saja teman. Sebagian org bahkan merasa berhubungan dekat dgn Arya.

Lalu, mengapa eksistensinya dipertanyakan?

Bila diperhatikan, banyak terdapat kejanggalan pd diri dan kehidupan Arya. Yg paling terlihat tentu saja sikap dan tingkah lakunya yg seringkali aneh. "Energinya seperti tak terbatas, terus bergerak, bernyanyi, dan tertawa-tawa," tutur seorang mahasiswa ITB. "Ngomongnya aneh banget, kadang2 saya bingung dia waras atau tidak," timpal mahasiswa lain.

Arya juga seringkali muncul dan menghilang tanpa diduga-duga. Ia jarang berbicara utk menanggapi org; bila berbicara, biasanya ia mengangkat topik yg hanya dipahaminya sendiri. Kadang2 keberadaannya tidak disadari org di sekitarnya, seakan ia tidak di sana.

Semua fenomena ini lambat laun menimbulkan pertanyaan: apa Arya itu nyata?

Menurut Dimas (nama samaran), seorang psikolog dari Institut Psikologi Indonesia, keberadaan Arya dapat merupakan gejala dari halusinasi massal. Ini merupakan sebuah fenomena yg sangat jarang terjadi, dan biasanya direkayasa dgn obat2an atau terapi tertentu. "Cara ini pernah digunakan oleh Nazi Jerman pada Perang Dunia II, dan ada kemungkinan juga digunakan oleh rezim Milosevic di Serbia," contohnya.

"Dgn pengaturan pola pikir yg tepat, bayangan yg sama dapat diatur agar muncul dlm pikiran tiap org. Ini yg menyebabkan wujud fisik Arya yg dilihat tiap org rata2 serupa," tambahnya.

Mengenai perilaku Arya yg bervariasi, "Kemungkinan besar, sosok Arya memang dirancang utk memenuhi kebutuhan psikologis atau fantasi individu, yg pada tiap org kadarnya berbeda. Ia juga dapat merupakan simbol utk pemanggilan memori dari alam bawah sadar."

Menghadapi dunia yg semakin kompleks dan membingungkan ini, memang banyak org mengalami depresi dan melarikan diri secara psikologis, termasuk menggunakan alkohol dan obat2an. "Bagi banyak org, sosok Arya mungkin merupakan terapi yg efektif, baik sebagai pelarian atau pelampiasan fantasi2 liar."

Lalu, siapa yg merekayasa Arya Antaputra? Dugaan terkuat jatuh pada ITB sendiri. "Suasana ITB yg kompetitif dan penuh konflik menimbulkan kelelahan yg memudahkan halusinasi massal yg terkendali dilakukan," menurut Luthfi (nama samaran), seorang pakar psikologi massa. Tambahnya lagi, ITB mempunyai sumber daya yg cukup utk melakukan hal tsb. "Soal riwayat hidup dan dokumen2 lain, itu soal kecil. Ingat, ini Indonesia!" katanya setengah berkelakar.

Untuk apa ITB berbuat demikian? "Pada tahap lanjut, halusinasi massal dapat digunakan utk mengendalikan massa secara total," lanjut Luthfi. "Yang kita lihat sekarang ini baru awal."

"Ini dapat merupakan proyek kerjasama ITB dgn kekuatan lain, baik dalam negeri maupun asing. Eksperimen sebesar ini pasti menghasilkan pemasukan yg sangat besar bagi ITB," tambah Dimas. Nilai proyek ini, bila memang benar2 ada, diperkirakannya mencapai puluhan milyar rupiah.

Saska (nama samaran), seorang aktivis KM-ITB, menduga proyek ini juga berhubungan dgn memburuknya hubungan rektorat dgn mahasiswa. "(ITB) dgn mudah bisa memanipulasi pikiran mahasiswa agar mengikuti kemauan mereka. Pembubaran himpunan, pembubaran KM, DO mahasiswa, dan manuver2 lain dapat dilakukan tanpa perlawanan," jelasnya. "Apalagi, proyek ini dapat menghasilkan dana besar. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui."

Seperti dapat diduga, pihak ITB sendiri membantah keras tuduhan2 tersebut. "Tidak benar itu, masa kami mengorbankan mahasiswa menjadi kelinci percobaan? Benar2 mengada-ada," kata Wakil Rektor Bidang Riset saat ditemui di kantornya di Rektorat ITB, Jl. Tamansari 64.

"Nama Arya Antaputra memang terdaftar sebagai mahasiswa di sini. Data2nya lengkap, kalau mau nanti silakan lihat. Dan dia sering ada di kampus kan? Masa masih dibilang tidak nyata? Sepertinya mereka perlu refreshing, nanti saya usulkan ke Bapak Rektor bikin acara wisata," tambahnya bercanda. Beliau sendiri mengaku blm pernah bertemu dgn Arya.

Bagaimanapun juga, misteri Arya telah menyebabkan munculnya berbagai teori di kalangan mahasiswa (lihat: Teori-teori Lain). Sebagian mahasiswa bahkan meluangkan sebagian waktunya utk menyelidiki misteri ini lebih jauh. "Gue udah ke Jakarta, lihat rumahnya, ngobrol sama teman2nya. Kalau gue sendiri sih sekarang yakin Arya emang ada," kata Ayu (EL '04).

"Kalau saya masih blm yakin. Semua itu bisa rekayasa. Org2 yg saya wawancara kebanyakan hanya mengenalnya secara umum, dan yg lebih akrab pun hanya ingat sepotong2. Jangan2 ingatan mereka juga dimanipulasi," kata Syawal (TI '03).

Apa yg menyebabkan Syawal, Ayu, dan banyak mahasiswa lain rela mengorbankan waktu, tenaga, dan uang utk menyelidiki Arya, apalagi mengingat tuntutan akademik ITB saat ini sudah semakin berat? Ayu menjawab bersemangat, "Seru aja. Jarang kan ada kasus seperti ini. Lagipula gue jadi banyak teman baru, dari org2 yg ngasih informasi dan dari anak ITB sendiri yg mau tahu progress gue."

"Sebenarnya saya lebih senang beraktivitas di unit. Tapi skrg kita banyak dapat tekanan dari atas [rektorat ITB, red.]. Sulit bikin acara. Jadi sambil tetap aktif di unit, saya coba kegiatan baru. Lumayan, teman2 juga mulai tertarik," kata Syawal, yg diiyakan oleh beberapa temannya.

Bagi mahasiswa ITB, keberadaan Arya memang memberi kesan tersendiri. "Gue sih senang aja ngelihatnya. Aneh, lucu. Lain dari yg lain," komentar Duwita (BI '02).

"Dia baik banget. Senang foto2, nggak tahu tuh buat apa," kata Hariza (TL '03).

"Aneh aja. Yg gua nggak suka, dia senang cari2 perhatian. Berasa seleb," kata Bona (TM '03).

Nah, bagaimana pendapat Anda?

Tampil, Pak!

Dramatis Personae:
Arya. Lulusan ITB. Keterangan lainnya ada di profile.
Pewawancara. Ramah, sopan, komunikatif.

Lokasi: Ruang Wawancara

(Pewawancara sedang duduk di balik meja. Terdengar ketukan di pintu)

Pewawancara (P): Masuk!

(Arya masuk)

P: Selamat pagi. Silakan duduk! Boleh saya lihat mapnya?
Arya (A): Oh, silakan. (menyerahkan amplop)
P: Hmmm... Arya Antaputra. Saya bisa panggil apa, Mas?
A: Arya saja.
P: OK. Silakan duduk, Mas Arya.

(keduanya duduk)

P: (membuka-buka map) Apa yang membuat Mas Arya tertarik untuk melamar kerja di perusahaan ini?
A: Yah, fasilitas yang ditawarkan menarik, dan gajinya juga cukup besar.
P: Oh, begitu. (melihat ijazah S-1) Oh, Mas Arya lulusan ITB? Teknik Elektro pula! Pintar dong Mas Arya ini!
A: (tertawa sopan) Ah, biasa saja sih, Pak.
P: (melihat lembar berikutnya, transkrip nilai) Oh, iya sih. IP-nya kecil.

(P melihat-lihat berkas lainnya, lalu kembali menatap A)

P: Sekarang mari kita bicara mengenai minat. Seperti kita ketahui, kalau pekerjaan kita sesuai dengan minat biasanya kita akan lebih bersemangat dalam mengerjakannya. Minat atau hobby Mas sendiri apa?
A: (berpikir) Ada beberapa sih, tapi yang utama ada dua. Yang pertama, main game.
P: Oh, main game? Game seperti apa?
A: Biasanya sih yang action, tembak-tembakan gitu Pak. Tapi strategi dan RPG saya juga suka. Sebenarnya hampir semua jenis game saya suka.
P: Wah, gamer sejati kelihatannya! Ada rencana mau jadi game designer mungkin?
A: Maunya sih begitu, Pak. Sampai sekarang saya masih belajar.
P: Oh begitu. Bagus, bagus. Tadi katanya hobby Mas ada dua. Yang satu lagi apa?
A: Oh, yang satu lagi? (terlihat malu-malu) Wah, gimana ya, Pak? Susah dijelaskan, sih. Tapi, dalam satu kata... Itu, Pak... (tiba-tiba menjadi sumringah) TAMPIL, PAK!!

(masuk lagu "Si Raja Tampil")

Aku Cupu

Aku cupu.

Aku cupu.

...

Cupukah aku?

Ya. Tidak.

YA!

TIDAK!

YAAAA!

TIDAAAAK!

...

Aku tidak tahu...

Self-motivation...

"Udahlah, El, nggak ada yg peduli sama loe, jadi nggak usah ngareplah. Loe bisa mencari seumur hidup loe tapi nggak bakal ketemu. Loe bisa bertanya-tanya sampai otak loe jebol tp nggak bakal dapat jawaban.

"Jadi udahlah. Cukup. Nggak ada yg peduli sama loe, jadi harus loe yg peduli sama diri sendiri. Karena kalo nggak, maka eksistensi loe nggak ada gunanya. Mending loe mampus aja.

"Loe harus berjuang demi diri loe walaupun org tetap nggak nganggap loe ada. Loe harus maju, loe harus sukses walaupun org tetap nggak mengakui, walaupun dunia bahkan nggak menganggap loe cukup bagus buat disebut sampah.

"Dunia nggak peduli sama loe, jadi kalo loe nggak peduli sama dunia, itu wajar dan emang hak loe. Walaupun begitu, ingat El, membalas kebaikan dgn kebaikan itu balas budi, tp membalas kejahatan dgn kebaikan itu kemuliaan. Dunia boleh nggak menganggap loe eksis, tp apa loe mau turun ke level yg sama? Coba pikirin. Tahan ego loe dan pikirin baik2.

"Sekarang loe lagi banyak ngalamin cobaan. Dari dulu Yang di Atas nggak henti2nya menguji loe. Nggak usah loe pikirin apa maunya Dia, krn lagi2 loe nggak bakal dpt jawaban. Loe nggak akan bisa ngendaliin org lain jadi kaya mau loe, tp ada satu yg bisa loe kendaliin: diri loe sendiri. Kontrol diri loe, arahin dgn baik, dan mungkin - mungkin - sesuatu akan menjadi lebih baik, walaupun kemalangan akan terus datang dari dunia yg kejam dan penuh prasangka ini.

"Jangan pernah menyerah. Kalaupun harus roboh, robohlah dgn bangga krn loe terus bertahan sampai penghabisan."

-from a lonely soul to itself

Mirza dalam lakon "Diculik Sesuatu"

Ini cerita tentang Mirza, seorang pemuda yang sangat ingin menjadi musisi. Suatu malam ia sedang berjalan di trotoar setelah makan di sebuah warung, sekedar ingin menikmati udara malam yang sejuk. Tiba-tiba, sesuatu terbang dengan cepat di langit. Belum sempat ia merasa terkejut, sesuatu itu sudah menyinarinya dengan cahaya yang sangat terang, dan tiba-tiba segalanya menjadi gelap...

Saat Mirza tersadar, ia sudah terbaring tanpa busana di tengah sebuah ruang operasi. Di sekelilingnya berdiri beberapa sosok berpakaian seperti dokter bedah, tetapi mereka bukan manusia; mereka lebih terlihat seperti gurita berkulit logam. Tiba-tiba, salah satu dari mereka bersuara, "UININDAOHDUINDIQBFUNHASJKDNAJKLBFAWNDAS?" Nada suara itu seperti manusia berbicara, tetapi kata-katanya sama sekali tidak seperti bahasa manapun di dunia ini. Mirza tidak bisa berbuat apa-apa selain diam saja. Makhluk itu mulai terlihat kesal. Ia bersuara lagi, "BVNUVGUVHFBAIXNJKADNUBVFUBVFIAWDBWEGUBDF??" Tentu saja Mirza kembali tidak mengerti dan hanya bisa diam. Kini makhluk itu benar-benar kesal.

"DFTDHJVFDUBFHJKO%**^(%*45637645623GHVKGKNKLNL!!" suaranya menjadi lebih keras, tetapi kini Mirza mengerti apa yang dikatakannya, karena kini makhluk itu menggunakan angka; memang angka merupakan bahasa yang universal. Ia pun membalas, "Jangan marah-marah dong, Mas, saya kan nggak ngerti!" Di luar dugaan, makhluk itu menjawab, "Ya lagian dari tadi nggak jawab!" Mirza terkejut. "Lho, sampeyan bisa bahasa Indonesia?!"

Makhluk itu, dan makhluk-makhluk lain di sekeliling Mirza, hanya tersenyum dingin saat ia kembali tersilaukan oleh cahaya terang, dan segalanya kembali menjadi gelap. Saat ia membuka mata, ia menemukan dirinya kembali mengenakan pakaian, bersandar di sebatang pohon jati besar, di trotoar tempatnya berjalan tadi; makhluk-makhluk itu membuatnya tidur sambil berdiri. Masih tidak yakin apakah yang baru dialaminya mimpi atau kenyataan, ia berjalan kembali ke warung tempatnya makan tadi, di mana beberapa orang temannya sedang mengobrol sambil tertawa-tawa. Mirza tak dapat mendengar mereka dengan jelas, tapi saat ia duduk, salah satu temannya yang bernama Aryo bersuara:

"CHJBJNVGFUDNIASGDUANHXDUIGDUHQIOSHIDHOJQHSDUISTYAFTYBGUIGDUA??"