Evaluating my love life...

Hahh... dini hari awal long weekend (walaupun tiap hari gua bisa milih utk cabut kuliah, dengan segala konsekuensinya, hehe...) Gua lg sama tiga org teman di RK, tp yg masih bangun tinggal gua dan Oky. Dian dan Dedy udah terkapar di kasur RK... BTW Dedy baru kecolongan duit sama HP, jadi buat pembaca sekalian, mari kita doakan biar dia diberi ketabahan ya!

Tadi siang gua ketemu seorang bidadari kampus. Bukan bermaksud GR, waktu tingkat 1-2 dulu sebenarnya gadis ini bisa jadi milik gua, kalau dianalisis dari tanda2 yg dia berikan, tapi nggak gua deketin serius. Bego ya? Tapi kebetulan sih, bisa jadi pembuka buat evaluasi dan nostalgia kecil2an malam, eh dini hari ini...

Gua pernah dengar ada tiga kriteria yang harus dipenuhi seseorang yang menjalani hubungan romantis dengan kita. Orang itu haruslah:

  1. Orang yang kita cintai
  2. Orang yang mencintai kita
  3. Orang yang menjalani hubungan dengan kita (Janggal ya? Gua juga nggak begitu inget, pokoknya ada no. 3 ini)

Dalam kehidupan, orang2 yang kita temui mungkin akan memenuhi satu, dua, atau semua kriteria di atas. Idealnya, siapapun yang akhirnya menjalin hubungan dengan kita memenuhi ketiganya. Sayangnya, banyak orang yang nggak berhasil nemuin orang yang seperti itu, dan akhirnya harus puas memiliki orang yang hanya memenuhi dua, bahkan satu dari ketiga kriteria tersebut.

Nah, tentunya, sesuai judul blog ini: bagaimana dengan Arya?

Kembali pada bidadari... eh, gadis di awal cerita ini, si T. Kalau menurut gua dia mendekati kriteria (DK) 1 dan 2. Gua bilang mendekati karena emang blm pernah bener2 dekat, jadi kemungkinan besar rasa itu blm sempat tumbuh, tapi at least attraction-nya udah ada. Nggak tahu sih kalau sekarang, hehe.

Selain dia, pernah ada lagi orang yang DK (1, 2), waktu gua kls 1 SMA, sebut aja si F. Haha, kayanya awal2 masuk tempat baru org lebih bisa attracted sama gua ya? Tapi dulu gua lebih cupu lg, sampai2 harus dia yg nanya duluan gua suka dia atau nggak, payah, hehe... But it's the past. Anyway, dia nggak memenuhi 3 karena waktu gua tembak, teman2nya nyaranin buat nunggu org lain yg jg lg ngedeketin dia, yg menurut mereka lebih berkualitas (FYI temen2nya akhirnya nyesel ngasih saran itu, hehe), dan akhirnya jadian sama org itu, yg satu angkatan lebih tua. Yg begonya, udah tahu dia DK (1, 2), dua bulan kemudian gua malah jadian sama sahabatnya dia... Parah bgt...

Sampai sekarang, baru orang ini, si S, yg pernah DK (1, 2, 3). Sayangnya cuma bertahan sebulan, lagi2 karena kebegoan gua, dan mungkin kepolosan dia (gua bego, dia cuma polos, hehe). Jadi selama sebulan, dua insan yang baru pertama kali pacaran, masing2 berusia 16 dan 15 tahun, ngerasa canggung dan nggak tahu pacaran itu kaya gimana. Dan bukannya sama2 nyoba belajar, akhirnya mereka berdua mutusin buat jadi temen lg. Padahal setelah itu ternyata ada berbagai variable pengganggu yang menyebabkan selama sekitar 2,5 tahun mereka berdua hidup dalam perang dingin... Untungnya saat kami berdua masuk ITB perang dingin berangsur-angsur usai. BTW di sini S juga jadi bidadari lho! Jadi gua pernah macarin salah satu bidadari ITB, haha! (Bangga ya...?)

PK (2)... Ada juga sih. Gua nggak bilang memenuhi kriteria (PK) 3 krn emang nggak pernah jadian resmi. Tapi malah berlanjut jadi hubungan TTM selama 6 bulan lebih, yg sulit sekali diakhiri tapi akhirnya dia bisa nerima juga bahwa emang harus berakhir, krn emang nggak PK (1). Lah, terus kenapa bisa TTM? Hm, awalnya gua sekedar simpati (sebagai teman yg baik) sama dia yg baru putus dari hubungan yg berat sebelah, tp akhirnya bisa berlanjut krn adanya singkatan M dari TTM. Go figure, hehe...

DK (1)... Hahahaha... Kalau dihitung ada sekitar... 7 atau 8 deh. Dikit atau banyak tuh? Yah dalam kriteria ini bisa dibilang gua bertepuk sebelah tangan deh. Tapi untungnya, wanita2 yang masuk kriteria ini masih tetap berhubungan baik dengan gua, hehe. Perlu diperhatikan juga bahwa gua kadang2 ngasih perlakuan spesial buat sebagian wanita yang gua anggap deket bgt sama gua, tp bukan karena PK (1), hehe. Kalau wanita2 ini juga dihitung, mungkin jumlah DK (1) bisa nyampai belasan...

Untungnya sampai sekarang gua blm pernah nemuin orang yang PK (1, 3) atau PK (2, 3). Kasihan soalnya, ujung2nya cuma bakal sakit hati, hehe...

Yah itulah evaluasi singkat gua. Atau bisa dibilang progress report ya? Huahahaha...

Kalau buat sekarang, gua blm nemu lg org yg DK (1), yg berarti gua lg nggak ngedeketin siapa2. Yah masih ada sih beberapa org yg sempat DK (1), tp sekarang perasaan gua udah biasa aja, sifat2 mereka yg sempat bikin jadi DK (1) sekarang membuat mereka jadi teman yg menyenangkan...

Semoga cepat nemu orang yang PK (1, 2, 3) lagi, dan kali ini nggak akan gua lepasin! Karena cinta memang nggak harus memiliki, tapi cinta tanpa memiliki itu nggak enak, hehehe...

                            

If we were all the same...

... things would be so much easier.

Or would it?

A few years ago I read an article in Popular Science (a very fascinating mag, it is) about bananas (fortunately they have an online version of that article here). It stated that some scientists are concerned that the world's most popular fruit is in danger of extinction, and now they're researching ways to save it.

"What?" you might say, "but I see bananas in the market every day!"

Well, that ubiquitousness is part of the reason of this concern. You see, most, maybe 90%, of all bananas consumed in the world is of a certain variety called the Cavendish. This variety was found in Southeast Asia (yeah!) in early 20th century, cultivated, researched, and put into commercial production about 50 years ago. Since then, most of the bananas in the world are exactly the same, as if they were cloned from a single host. Well, here in Indonesia we have several other varieties available, like the ambon, raja, pulo, etc., but that's a special case.

The problem with this condition? A single disease outbreak could wipe out most of the world's banana population. It had happened before to another mass-produced variety called the Gros Michel, which was wiped out by the Panama disease in the 1960s. In fact, Cavendish replaced the Michel as the world's banana because of its resistance to the disease.

Diversity is a key to species survival. Different genetic properties within a species guarantees that there'll always be some that survive any given jeopardy, be it diseases, predators, pests, human, or anything else.

This theory is also referenced in the best-seller manga 20th Century Boys, which dubbed it "The Chosen 1%", as a guarantee that 1% of the human population will survive any virus Friend (the main antagonist) befalls upon humanity. So you see, Urasawa Naoki-sensei rocks! Hehe.

The point? We are all created different for a reason. We may have different colors, views, opinions, tastes, preferences, ways of expressing ourselves, IQs, talents, fashion styles, learning styles, communication styles, and so on, but that's the way it's meant to be. We need to understand one another, not look down on, oppress, or even worse, try to kill others who are different from us.

I know it's difficult. Society, education, the media, and even our own ego usually prevent us from respecting different people. That's one of the reasons why genocide, negative stereotypes, racism, and divorces happen. Sometimes we can tolerate one kind of difference but can't tolerate another, like race or religion.

But we have to try. Right?

Otherwise we might face the same fate as the Gros Michel.

Well, but if one day the whole world must switch to avocado splits and monkeys are depicted eating apples, at least here in Indonesia we would still have fried bananas, haha!

Kebebasan adalah matinya harapan...

Kalimat di atas gua dengar pertama kali dari tetangga depan kost gua, Dhito. Dia sendiri mendengar ucapan itu dari temannya. Iseng2 search di Google, ternyata kata2 itu juga muncul di salah satu karya seseorang bernama J. Michael Straczynski, yang ternyata adalah pengarang Babylon 5 dan juga pernah kerja buat Marvel Comics.

Benar nggak sih kata-kata itu? Menurut gua sih bisa jadi benar. Bukankah dengan kita punya harapan, apa yang kita lakukan dalam hidup jadi mengarah pada pemenuhan harapan itu? Harapan menjadi sesuatu yang mengikat dan kita biasanya jadi nggak bersedia melakukan sesuatu yang kita takutkan akan menjauhkan kita dari pemenuhan harapan itu. Pengejaran terhadap sesuatu yang kita harapkan bisa menimbulkan penderitaan, terlebih kalau harapan itu nggak tercapai, atau lebih parah lagi, ternyata apa yang kita harapkan itu sia-sia.

Di sisi lain, hidup tanpa harapan juga kosong. Buat apa kita hidup kalau nggak ada tujuannya? Bebas, terombang-ambing, melayang-layang, tapi akhirnya nggak bermakna...

Hahaha, pembahasannya jadi ngeracau gini... Sebenarnya sih intinya gua lagi mikir: apakah sebaiknya gua memilih harapan atau kebebasan?

Toh saat gua punya kebebasan, gua bebas untuk menciptakan harapan-harapan baru...

Lega abis UTS Medan...

Tadi sore, sekitar jam 15.00, salah satu beban pikiran gua terangkat: UTS Medan udah lewat! Bisa nggak urusan nanti, yang penting sekarang nggak usah mikirin itu dulu...

Tadi sore harusnya ada halal-bihalal RK sama Boulevard, cuma karena mereka rapat dll. akhirnya nggak jadi, terus jadinya nonton acara musik jazz Apres di KBL. Boleh juga sekali2 nonton jazz, hehe... apalagi seseorang yang ditunggu-tunggu muncul :-D walaupun cuma ngobrol dikit... :-( Perjuangan masih panjang, Eru!!

Abis itu... nonton Detective Conan Live Action, prequelnya Detective Conan gitu tapi yang main orang beneran! Ceritanya kelasnya Shinichi dan Ran wisata gitu ke sebuah pulau terus ada orang yang menyebut dirinya "KIDNAPPER" melakukan pencurian ginjal... eh, itu mah kidney-taker ya, tapi loe pasti tahu kejahatan sebenarnya apa. Sebagai adaptasi komik tentunya ada beberapa bagian yang kerasa aneh, karena manusia nggak berekspresi dan berpakaian seperti tokoh komik, tapi di sisi lain feel komiknya lumayan dapat.

Tapi apa yang membuat gua tetap bangun sampai lewat jam setengah tiga pagi? Nggak lain adalah Google Earth! Buat yang belum tahu, Google Earth itu pada dasarnya program peta dunia digital 3 dimensi yang bisa dizoom sampai keliatan mobil2 di jalan, dan juga bisa dikasih model 3D gedung biar rasanya beneran terbang di atas kotanya. Selain itu, lokasi2 di peta bisa dikasih placemark yang bisa dibagi sama seluruh pengguna GE di dunia, jadi bisa tukaran berbagai macam informasi.

Nah, inilah yang gua lakukan selama satu jam terakhir, sebelum gua mutusin buat ngeblog dan abis ini tidur. Gua jalan2 keliling dunia terus baru sadar ada beberapa tempat yang belum ada placemarknya. Maka gua bikin deh. Yang gua bikin tadi misalnya Simpang Dago, Cisitu Asylum, sama LIPI. Kalau mau liat semua placemark yang gua udah publikasiin, silakan ke forumnya Google Earth terus cari semua posting yang dibikin sama petewarrior (kalau mau tahu caranya download aja dulu Google Earth).

Ngeliat kaya gini gua tadi sempat mikir, kenapa dulu gua nggak suka pelajaran geografi? Padahal gua suka jalan2, ngeliat dunia, ngeliat budaya dan orang2 yang beda, makanya nanti kalau udah kaya mau jadi backpacker (amiin)... Kemungkinannya dua: karena gua males, atau karena kurikulum geografinya malesin. Gua pilih yang kedua. Hehe.

Yah, gitulah, mau cerita aja sih, sekalian promosi placemark bikinan gua... Good night! ... Eh, good morning kali ya...

Product placement...

Zaman sekarang sebagian orang udah mulai bosan dan muak dengan dominasi korporat. Salah satu perwujudannya kadang2 gua lihat dalam dunia perfilman, terutama film Hollywood. Udah ada yang protes dengan sesuatu yang bernama product placement.

Yang dimaksud product placement adalah penggunaan barang atau penampilan iklan dari merk yang beneran ada di dunia nyata. Jadi kaya iklan terselubung gitu. Sebenarnya emang wajar aja kalau para produsen pingin numpang masang iklan di film2, yang bakal ngeliat kan banyak, dan emang itulah fungsi iklan.

Dari segi filmnya sendiri, menurut gua sebenarnya penggunaan produk beneran juga bisa ngasih efek positif, misalnya:

  • Bikin penonton lebih familiar sama dunia di dalam film. Misalnya James Bond dikasih liat pakai jam tangan Omega, naik Aston Martin, sama minum Smirnoff, untuk menekankan gaya hidup dia yang bergelimang kemewahan (kecuali waktu ditangkap tentara Korut, hehe). Back to The Future, I, Robot, sama Minority Report juga nampilin beberapa merk kaya Nike, Audi, Lexus, sama Gap. Di Toy Story, beberapa mainannya beneran dijual di toko (bukan sebagai merchandise film), kaya Mr. Potato Head (yang bilang "I'm from Playskool") sama Etch-A-Sketch.
  • Efek komedi. Waktu nonton Evolution gua ngakak ngeliat monsternya berhasil dihabisi pake shampo Head & Shoulders. Huahaha! Udah gitu katanya tiga pemeran utama filmnya di akhir film sok2 bikin parodi iklan Head & Shoulders juga... Ada lagi di Batman & Robin, parodi iklan kartu Visa waktu Batman ngeluarin Batcard.

Tapi tentunya product placement nggak akan diprotes kalau nggak dirasa mengganggu. Ini contoh beberapa kasus product placement yang gua pernah liat dan rasanya mengganggu:

  • The Island: Masa di sanctuary terakhir manusia perlu2nya dikasih liat barang2 bermerk Puma sama XBox? Katanya dunia luar udah nggak bisa dihuni... Pantesan rahasianya bocor :-P
  • I, Robot: "Converse, vintage 2004" Dialog itu menurut gua bener2 nggak penting. Ditambah lagi Det. Spooner (Will Smith) diceritain ngoleksi barang2 abad 20, jadi filmnya punya kesempatan nampilin CD player JVC, dll.
  • Splinter Cell: Pandora Tomorrow: Ini bukan film, tapi game. Beberapa kali adegan yang melibatkan HP perlu2nya diclose-up biar ketahuan bentuknya Sony Ericsson P910i sama T630, lengkap dengan Memory Stick. Salah satu orang yang ditemui Sam sok2 komentar lg tentang P910i, "Nice PDA." Lagian emangnya HP gituan cukup kuat dan canggih ya dibawa nyusup2?
  • Tusuk Jelangkung: Film ini, selain mirip video klip, juga mirip iklan Honda Stream. kalau nggak salah semua tokohnya juga doyan Lipton Ice Tea. Atau itu Jelangkung pertama ya?

Jadi, product placement itu baik atau buruk? Menurut gua sih, seperti segala sesuatu di dunia ini, tergantung. Kalau product placement bikin filmnya jadi janggal, maksa, atau semacamnya, ya jelas jelek. Tapi sisi baiknya ya itu tadi, bikin dunia dalam film jadi lebih nyata dan membantu penonton menyatukan dunia dalam film dengan dunia nyatanya sendiri.

Menurut loe?

SEMPRENGKENG!!

Orang-orang yang sering berada di sekitar gua tentu sering ngedengar gua mengucapkan kata di atas. "SEMPRENGKENG!!!" Dan biasanya yang baru dengar akan mengajukan pertanyaan yang sangat wajar:

"Apaan sih artinya?"

Hm, apa ya? Sebenarnya sih nggak ada. Kata 'semprengkeng' itu kata yang multifungsi. Bisa digunakan misalnya sebagai:

  • Umpatan/pengungkap kekesalan yang nggak menyinggung siapa-siapa, beda dengan 'brengsek' atau 'bangsat' yang udah dianggap kata kasar.
  • Kata trademark yang gua banget.
  • Indikator seberapa banyak gua udah mempengaruhi orang (akhir2 ini udah ada teman gua yang mulai make kata itu)
  • Pemancing tawa, karena banyak yg nganggap bunyi kata itu lucu.
  • Nick main CS kalau lagi dipecundangi, biar nggak ngerusak image nick utama gua, hehe.
  • Kata buat ngatain adik bungsu gua yang entah kenapa sebel kalau gua panggil itu. Diduga sih karena dekat dengan kata (King) Kong.
  • dan banyak lagi...

Kalau mengenai asal katanya, 'semprengkeng' itu plesetan dari Sempalong dan Brengkolang. Dua kata itu adalah nama file penyebar virus Brontok yang dulu sempat menghebohkan kota Bandung, termasuk ITB. Mungkin si pembuat Brontok sebel ya, tapi toh dia nggak bakal protes karena itu bakal ngebongkar identitasnya, yang sama aja dengan mengantar nyawa, hahaha!

Jadi, kalau loe kesal, iseng, suka dengan kata itu, atau apa aja, jangan lupa dengan ucapan yang sangat indah...

SEMPRENGKENG!!!

Happier Days...

Halo, halo, halo!!

Udah lama gua nggak cerita2 di blog ini ya... Tapi akhir2 ini beberapa hal baik terjadi sama gua, jadi gua pingin cerita. Bukan cuma buat loe, tapi juga buat gua sendiri kalau2 suatu hari gua ngerasa down, sebagai penyemangat...

Pertama, gua udah punya HP baru! Gua nulis post ini di Samsung SGH-D720 yg gua beli di BEC 2 mingguan yg lalu. Nih HP dari segi fisik keren abis, dan dari feature juga lumayan, RAM-nya aja 16 MB, terus speaker stereo, dpt kabel data juga! Konektivitas ke komp juga lebih gampang daripada Nokia 3660 gua dulu. Cuma krn versi Asia, jadinya nggak ada voice command, padahal di Eropa ada, malah dptnya kamus bhs Mandarin. Udah gitu, blm ada T9 bhs Indo. Semoga nanti dpt aplikasi atau update yg bisa menutupi kekurangan2 itu... Oh iya, baterainya nggak nyampe sehari tahannya, tp ternyata kayanya karena cara nge-charge gua yang salah, hehe. Tp overall gua seneng sama HP ini!

Udah gitu, UAS beres dgn meyakinkan, walaupun hasilnya pd blm keluar. Matek aja bisa dpt nilai akhir C, yg bisa dinaikin jadi B kalo ikut ujian Jumat besok, tp gua kayanya nggak mau ambil risiko nilai turun... Skrg yg tersisa tinggal proyek akhir arsikom, RPL, sama... Divkom. Makanya gua masih harus di Bdg...

Terus, akhirnya gua menyelesaikan satu lagi cerpen! Well, bagi gua itu achievement lho, soalnya gua suka berhenti di tengah2... Kali ini judulnya "Pengembaraan Terus Berlanjut", terus gua ikutin proyek amal Komunitas Merapi (komunitas_merapi@yahoogroups.com). Semoga kepilih buat masuk buku cerpen...

Tadi pagi gua juga dpt telp dari sebuah nomor telp. Bdg, yg ternyata radio Prambors Bandung, yg minta gua dateng besok jam 9! Kayanya sih wawancara penyiar, krn gua nggak tahu apaan lagi kira2... Semoga lancar deh, biar semester depan gua bisa tampil! Tadi nggak sempat potong rambut lagi, tp kayanya sih nggak apa, toh radio...

Kalo dipikir-pikir, kayanya hal2 baik ini terjadi krn gua mulai bisa lebih tegas sama diri sendiri dan org lain. Gua udah mulai bisa nolak godaan dan mendorong diri gua sendiri utk maju dan berkarya. Emang sih awalnya hubungan gua sama temen2 sempat jadi jauh, krn gua jadi jarang main bareng mereka. Tp makin ke sini gua makin bisa membagi waktu buat mereka juga, dan mereka pun bisa ngerti perubahan gua. Hasilnya, gua jadi lebih bangga dan yakin sama diri gua sendiri karena bisa mencapai lebih banyak, dan kehidupan sosial pun nggak terbengkalai.

Intinya gua lagi senenglah. Tapi dari sananya suka dan duka pasti datang silih berganti. Semoga kalau tiba saat2 duka, gua bisa menghadapi. Hehe, bukan bermaksud pesimis sih, cuma mempersiapkan diri aja...

Semoga kita semua bisa terus meningkatkan diri...

RUU APP... Tolak!

Wah2, blog ini bener2 terlantar… Sebenarnya gua punya cukup banyak utk ditulis tapi nggak ada waktu, apalagi HP gua hilang jadi nggak bisa mobile blogging. Saat ini emang ada beberapa hal yang jadi tanggung jawab gua, dan ada beberapa yang sama sekali belum gua tangani atau tertunda lamaaa... sekali.

Tapi, di sela-sela kesibukan ini (aduh, sok sibuk) gua pingin nulis tentang isu yang saat ini lagi cukup hangat, yang bernama Rancangan Undang-undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP). Kenapa ya? Mungkin karena gua lihat masih banyak yang mendukung disahkannya RUU tersebut jadi UU.

Ya, karena gua emang nggak setuju RUU itu.

Sebelum ngomong lebih jauh, gua pingin memperjelas bahwa menolak RUU APP bukan berarti mendukung pornografi. Sama sekali bukan! Menolak RUU APP berarti tidak menerima solusi yang ditawarkan RUU tersebut untuk menghadapi masalah bangsa yang bernama pornografi. Analoginya begini, orang bisa saja menjadi kaya dengan jalan korupsi, tapi kalau dengan alasan apapun dia memilih untuk nggak melakukannya, bukan berarti dia nggak mau meningkatkan kesejahteraan keluarganya kan? Ada banyak jalan lain. Dunia ini nggak hitam-putih seperti anggapan Osama bin Laden dan George W. Bush yang mengatakan “if you’re not with us, than you’re against us”.

OK, udah ngerti kan? Nice. Sekarang kenapa gua menolak RUU ini? Alasan gua kurang lebih sama dengan banyak orang lain yang juga menolaknya. Gua nggak ngerasa perlu nulis satu2 karena di Internet udah banyak yang mengulasnya lebih baik daripada yang gua bisa, misalnya di http://jiwamerdeka.blogspot.com. Atau cari aja di Google pakai keyword “RUU APP”, loe bakal nemu ribuan situs penolakan. Tapi di sini akan gua coba ringkas.

RUU APP itu sangat subjektif. Nggak ada yang sepenuhnya berhak menetapkan kriteria pornografi dan pornoaksi. Yang dimaksud dengan pornografi adalah “segala apa yang merendahkan manusia menjadi objek nafsu seksual saja”, sesuatu yang pada tiap individu berbeda maknanya. Apa yang oleh satu orang dianggap pornografi bisa saja dianggap biasa saja oleh orang lain, bahkan diagungkan sebagai bentuk seni atau simbol keagamaan.

Parahnya, dalam RUU APP, yang berpotensi menjadi salah satu Undang-Undang Negara Kesatuan Republik Indonesia, pornografi didefinisikan sebagai “substansi dalam media atau alat komunikasi yang dibuat untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika”. Sementara pornoaksi, yang merupakan istilah baru ciptaan para penggagas RUU APP. adalah “perbuatan mengeksploitasi seksual, kecabulan, dan/atau erotika di muka umum”. Mengeksploitasi seksual? Berarti kalo gua bilang “Eh, gua cowok lho!” itu melanggar hukum dong. Seksual kan berarti berhubungan dengan kelamin. Well, at least technically.

Bagian tubuh yang sensual (Pasal 4)... Di penjelasan RUU APP disebutin adalah "antara lain adalah alat kelamin, paha, pinggul, pantat, pusar, dan payudara perempuan, baik terlihat sebagian maupun seluruhnya". Sebagian itu seberapa? Dan termasuk yang di balik pakaian tp lekuknya tetap keliatan nggak? Apa sekarang baju ketat aja mau dicekal? Apa rok 10 cm di atas lutut aja bakal didenda? Speechless.

Keliatan banget dari dua contoh di atas bahwa RUU ini dibikin oleh orang2 yg nggak ngerti hukum dan cuma mau maksa orang ngikutin kriterianya sendiri tentang apa yg boleh dan nggak secara moral. Dengan kata lain, melecehkan hak pribadi orang lain untuk berpikir dan berpendapat.

Gua yakin RUU ini juga di-blow up untuk ngalihin perhatian masyarakat terhadap isu2 yg lebih krusial, kaya TDL, pendidikan, penyelewengan BLT, kenaikan gaji anggota DPR, dll. Emang, emang, DPR itu orangnya banyak, tapi apa mereka mau kerja sebelum disorot media? Padahal sorotan medianya tercurah ke kontroversi RUU APP.

Terus... kemarin gua baca poster di lingkungan kampus gua yg berbunyi "Mau selamat dari tatapan jail dan jelalatan cowok? Dukung RUU APP donk..." yg dikeluarkan oleh salah satu organisasi keagamaan kampus. Berarti dikiranya RUU itu melindungi wanita? Hm, asal tahu aja dlm RUU APP nggak ada apapun yg ditujukan kepada pelaku pelecehan wanita. Yg diserang justru adalah wanitanya, yg secara implisit dianggap sebagai penyebab terjadinya pelecehan dan jadinya disuruh berpakaian menurut kriteria tertentu. Aneh kan? Jadi inget adegan di film Janji Joni, waktu motornya Joni diambil orang dan polisi malah mempermasalahkan Joni yg nggak ngerantai motornya. Maksudnya, yg dijadikan sumber masalah malah korbannya.

Cara berpakaian mah nggak perlu diundangkan. Mau melindungi diri atau membuka diri itu pilihan pribadi, dengan segala konsekuensinya. Atau apakah kita udah nggak berani menentukan nasib sendiri sampai2 minta dibikinin UU yg mengatur cara berpakaian? Please. Itu sama dengan ngomong, "Eh, pasung gua dong!"

Menolak RUU APP bukan dukungan terhadap pornografi, tapi penolakan terhadap pengekangan berkedok pemberantasan pornografi. Pornografi harus diberantas, tapi bukan dengan RUU APP.

Tolaklah, kalo masih bersedia berpikir. Kalo masih mau dibiarkan berpikir.

http://www.petitiononline.com/ruuapp/petition.html

Kita Hanya Butuh Dihargai...

Gua pingin bikin tulisan ini setelah dengar curhatan teman gua, sebut saja Jerry, beberapa hari yg lalu. Dia tinggal di suatu tempat kost yg mayoritas penghuninya, termasuk anak sang pemilik, kuliah di suatu jurusan yg terkenal sulit, sementara dia sendiri nggak. Nah, tiap kali anak2 lain itu mau ujian, mereka pasti ngajak teman2 mereka belajar bareng di tempat kost itu. Sekitar 10-15 org bakal menuhin ruang tengah, belajar rame2 diselingi obrolan dan tawa keras, dan bikin berantakan. Dia udah nyoba ngomong ke pemilik kost bahwa dia terganggu, tapi nggak digubris. Ini udah terjadi berkali-kali, dan kemarin waktu dia cerita, kelihatan banget marahnya udah benar2 memuncak.

Cerita teman gua ini ngingatin gua sama kisah teman gua yg lain, sebut saja Fiona. Suatu kali perkumpulan yg dia ikuti bikin acara, dan di saat2 terakhir dia minta jadi pengisi. Karena acaranya padat, panitia cuma bilang bakal usahain, tapi dia optimis dan tetap siap2 di hari-H, apalagi malam itu panitia bilang masih ada slot waktu buat dia. Dgn antusias dia nunggu dipanggil ke depan, tapi tiba2 MC bilang acaranya udah selesai. Teman gua pun kesal.

Kalau sudah begitu, apa yg harus dilakukan? Apa teman2 kost Jerry harus berhenti belajar bareng? Apa acara itu seharusnya diperpanjang biar Fiona bisa main?

Ternyata tidak. Sebenarnya keluhan terbesar kedua org itu kurang-lebih sama: mereka merasa tidak dihargai.

Jerry mengerti bahwa teman2nya perlu belajar bersama. Ia bahkan cukup peduli buat nanya jadwal ujian mereka. Dia cuma minta mereka sadar bahwa ia terganggu, dan setidaknya minta izin ke dia sebagai salah satu penghuni kost itu. Syukur2 kalau mereka bisa menjaga kerapian dan volume suara. Dgn begitu, dia pun bisa berbesar hati dgn keadaannya, bahkan dgn ikhlas mungkin menyingkir sementara sampai keadaan tenang. Cuma itu.

Sementara, kekesalan terbesar Fiona adalah bahwa nggak satupun panitia ngasih tahu dia bahwa dia batal main, apalagi minta maaf. Ia tahu bahwa kemungkinan batal waktu itu cukup besar karena jadwal yg ngaret dan lain2, tapi tetap aja antusiasmenya udah sempat timbul. Dan itu semua berubah menjadi kekecewaan. Kekecewaan yg selama beberapa lama hanya ia pendam, karena ia terlalu kesal utk complain.

Hal2 kecil seperti ini memang sangat mudah buat lolos dari perhatian kita. Mungkin karena begitu sederhana sampai2 tidak terpikir oleh otak kita yg biasa dituntut berpikir berat dan rumit. Mungkin juga karena kita sudah merasa akrab dgn seseorang sampai tidak perlu terlalu menjaga perasaan.

Padahal, saling menghargai bukanlah hal yg main2. Menurut Dale Carnegie, penulis buku "Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain" yg menjadi best-seller dunia, dihargai dan diakui org lain bahkan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Hal inilah yg mendorong manusia utk berlomba-lomba meningkatkan dirinya di mata org lain, bahkan org rela berbuat kejahatan besar agar diakui sebagai penjahat yg hebat, atau menipu yang kemudian pasti diikuti oleh ribuan dusta lain. Serangan terhadap ego atau harga diri seseorang merupakan hal yg sangat menyakitkan, yang dlm kasus ekstrim cukup utk menjadikannya seorang pembunuh.

Dan ini bukan sekedar teori. Karena tak tahan lagi, Jerry sampai menyumpahi org2 yg belajar di rumahnya, dan besoknya, sedikitnya dua dari mereka kehilangan benda yg berharga (gua nggak perlu kasih tahu barangnya, nanti ketahuan org yg dimaksud). Mungkin krn perasaannya sangat tertekan ketika itu, Yang Maha Kuasa menganggapnya doa org teraniaya sehingga langsung dikabulkan.

Menghargai org lain tidak berarti kita tidak boleh akrab dgn org lain, apalagi bersikap kaku. Kita hanya perlu sedikit peka utk bisa merasakan perasaan org lain, bagaimana kira2 perasaan dia atas tindakan kita. Bila ia merasa dirugikan atau tidak dihargai, ya jangan lakukan, cari jalan lain. Atau setidaknya minta maaflah dgn tulus. Dgn begitu paling nggak dia tahu kita sebenarnya peduli sama dia, walaupun keadaan memaksa kita berbuat demikian.

Yah, walaupun seperti kata Elton John, "sorry seems to be the hardest word to say"...

points to ponder...

Ini salah satu kuis bulletin board terbaik yg pernah gua isi! Benar2 sesuai sama keadaan gua saat ini...

points to ponder...
1.gender?
= male

2.apa anggapan orang lain mengenai dirimu?
nyatanya?
= expressive, even freaky
= expressive, even freaky, caring to some, but
sometimes ponderous and melancholic...

3.apa yang kamu tidak inginkan orang lain berpikir
demikian terhadap kamu?
= gua org gak berguna, cuma buang2 sumber daya bumi

4.situasi apa yang bisa membuatmu sangat
marah?
apakah orang lain tahu?
= Kalo gua lagi serius tp org nganggap bercanda
atau malah ngebercandain
= kayanya nggak, people seldom take me seriously,
that's why I usually keep to myself

5.apakah kamu merasa populer?
= hahaha... dunno

6.hobi kamu?
= computer games, graphic design, writing short
stories (check out my blog!), reading, singing,
and doing crazy stuff...

7.buku terakhir yg sdh selesai dibaca?
= The Punk by Gordon Sams

8.yang sering kamu pikirkan?
= bikin <suatu cerita atau animasi> seru kali ya?

9.jurusan study yg kamu ambil? yakin dengan
pilihan tsb? mengapa?
= teknik elektro
= ternyata kurang pas
= ngitung2 dan analisis melulu

10.percaya kamu akan ahli/sekurang-kurangnya
bekerja dalam bidang tersebut?
= kayanya nggak kalau dilihat sekarang, nggak tahu
nanti

11.kamu ambil jurusan tsb krn suka/agar dapat
kerja?
= sebenernya suka tapi di sisi softwarenya, yg di
elektro cuma sedikit dipelajari (kecuali subjur
komp kali ya)

12.punya keinginan yg hampir tidak bisa
diwujudkan
saat ini?
= bikin game komputer yg mendunia (bisa sih, tp
nggak sekarang kayanya)

13.lebih suka mengurus kata2/angka2?
= blm jelas...

14.siapa yang paling berpengaruh di dalam hidup
kamu?
= my parents I guess

15.seperti apa kamu 3th yang lalu?
= technical career-oriented

16.mau menjadi seperti apa kamu 5th mendatang?
= kerja di bidang yg gua suka, kalo bisa
perusahaan sendiri

17.apa yg sudah kamu lakukan agar bisa seperti
gambaranmu 5th mendatang?
= belajar dan melakukan hal2 baru, but still not
enough yet

18.Sahabat seperti apa yg kamu butuhkan?
= yg bisa menginspirasi gua dan bantu gua nyari solusi

19.suka memiliki sahabat banyak?
= temen dekat iya, tp sahabat itu spesial dan
kayanya emang nggak bisa banyak (kayanya sih)...
Kecuali kalo istilah "sahabat" berarti "teman dekat"

20.bagaimana tanggapanmu mengenai
persahabatan
lawan jenis?
= wajar2 aja... Have quite a few

21.bagaimana kamu memandang hidup?
= terlalu luas utk dideskripsikan

22.bagaimana kamu memandang masa depan?
= Maybe I'll die tomorrow, maybe I'll become a
rich guy... So I'll just do my best

23.apakah kamu menjawab semua pertanyaan
dengan jujur?
= iyalah, semoga