If we were all the same...

... things would be so much easier.

Or would it?

A few years ago I read an article in Popular Science (a very fascinating mag, it is) about bananas (fortunately they have an online version of that article here). It stated that some scientists are concerned that the world's most popular fruit is in danger of extinction, and now they're researching ways to save it.

"What?" you might say, "but I see bananas in the market every day!"

Well, that ubiquitousness is part of the reason of this concern. You see, most, maybe 90%, of all bananas consumed in the world is of a certain variety called the Cavendish. This variety was found in Southeast Asia (yeah!) in early 20th century, cultivated, researched, and put into commercial production about 50 years ago. Since then, most of the bananas in the world are exactly the same, as if they were cloned from a single host. Well, here in Indonesia we have several other varieties available, like the ambon, raja, pulo, etc., but that's a special case.

The problem with this condition? A single disease outbreak could wipe out most of the world's banana population. It had happened before to another mass-produced variety called the Gros Michel, which was wiped out by the Panama disease in the 1960s. In fact, Cavendish replaced the Michel as the world's banana because of its resistance to the disease.

Diversity is a key to species survival. Different genetic properties within a species guarantees that there'll always be some that survive any given jeopardy, be it diseases, predators, pests, human, or anything else.

This theory is also referenced in the best-seller manga 20th Century Boys, which dubbed it "The Chosen 1%", as a guarantee that 1% of the human population will survive any virus Friend (the main antagonist) befalls upon humanity. So you see, Urasawa Naoki-sensei rocks! Hehe.

The point? We are all created different for a reason. We may have different colors, views, opinions, tastes, preferences, ways of expressing ourselves, IQs, talents, fashion styles, learning styles, communication styles, and so on, but that's the way it's meant to be. We need to understand one another, not look down on, oppress, or even worse, try to kill others who are different from us.

I know it's difficult. Society, education, the media, and even our own ego usually prevent us from respecting different people. That's one of the reasons why genocide, negative stereotypes, racism, and divorces happen. Sometimes we can tolerate one kind of difference but can't tolerate another, like race or religion.

But we have to try. Right?

Otherwise we might face the same fate as the Gros Michel.

Well, but if one day the whole world must switch to avocado splits and monkeys are depicted eating apples, at least here in Indonesia we would still have fried bananas, haha!

10 Kebiasaan yang Dapat Merusak Otak

Dapat dari milis HME-NET, dipost sama teman gua Arie. Kalau melihat list ini, nggak heran gua jadi goblok sekarang... Paling sedikit 5 dari 10 terjadi sama gua! Ckckck...

1. Tidak Sarapan Pagi
       Mereka yang tidak mengkonsumsi sarapan pagi memiliki kadar gula darah yang rendah, yang akibatnya suplai nutrisi ke otak menjadi kurang.

2. Makan Terlalu Banyak
       Terlalu banyak makan, apalagi yang kadar lemaknya tinggi, dapat berakibat mengerasnya pembuluh darah otak karena penimbunan lemak pada dinding dalam pembuluh darah. Akibatnya kemampuan kerja otak akan menurun.

3. Merokok
       Zat dalam rokok yang terhisap akan mengakibatkan penyusutan otak secara cepat, serta dapat mengakibatkan penyakit Alzheimer.

4. Mengkonsumsi gula terlalu banyak
       Konsumsi gula yang terlalu banyak akan menyebabkan terganggunya penyerapan protein dan nutrisi, sehingga terjadi ketidakseimbangan gizi yang akan mengganggu perkembangan otak.

5. Polusi Udara
       Otak adalah konsumen oksigen terbesar dalam tubuh manusia. Menghirup udara yang berpolusi menurunkan suplai oksigen ke otak sehingga dapat menurunkan efisiensi otak.

6. Kurang Tidur
       Otak memerlukan tidur sebagai saat beristirahat dan memulihkan kemampuannya. Kekurangan tidur dalam jangka waktu lama akan mempercepat kerusakan sel-sel otak.

7. Menutup kepala saat tidur
       Kebiasaan tidur dengan menutup kepala meningkatkan konsentrasi zat karbondioksida dan menurunkan konsentrasi oksigen yang dapat menimbulkan efek kerusakan pada otak.

8. Menggunakan pikiran saat sakit
       Bekerja terlalu keras atau memaksakan untuk menggunakan pikiran kita saat sedang sakit dapat menyebabkan berkurangnya efektifitas otak serta dapat merusak otak.

9. Kurang menstimulasi pikiran
       Berpikir adalah cara yang paling tepat untuk melatih otak kita. Kurangnya stimulasi pada otak dapat menyebabkan mengkerutnya otak kita.

10. Jarang berkomunikasi
       Komunikasi diperlukan sebagai salah satu sarana memacu kemampuan kerja otak. Berkomunikasi secara intelektual dapat memicu efisiensi otak. Jarangnya berkomunikasi akan menyebabkan kemampuan intelektual otak jadi kurang terlatih.

Apa ini bisa disembuhkan?

Teori-teori Lain

Ini lanjutan dari salah satu post lama gua, "Arya Antaputra, Nyatakah Dia?". Disarankan untuk membaca post itu dulu biar lebih mengerti.

Selain halusinasi massal, ada beberapa teori lain yang mencoba menjelaskan keberadaan Arya. Beberapa di antaranya dibahas di sini.

  • Teori Matrix (Matrix Theory)
    Tidak hanya Arya yang tidak nyata, seluruh dunia yang kita kenal ini juga tidak nyata. Sebenarnya selama ini tubuh fisik kita tertidur dan otak kita terhubung ke sebuah superkomputer melalui kabel yang terpasang ke belakang leher kita, dan dunia yang kita kenal selama ini cuma seperti mimpi. Wachowski bersaudara benar!
  • Teori Masa Kecil (Infancy Theory)
    Mahasiswa/i ITB terdiri atas sekitar 0,5% putra-putri terbaik Indonesia. Mungkinkah sebenarnya ketika masih kecil (bayi) mereka diberi terapi khusus untuk mencapai tingkat kecerdasan yang akhirnya mengantarkan mereka masuk ITB, dan "Arya" merupakan side effect dari terapi itu? Untuk mengkonfirmasi teori ini, bisa dilihat catatan masa kecil mahasiswa/i ITB.
  • Teori Nyata (Real Theory)
    Teori ini merupakan teori yang diterima oleh mayoritas warga ITB, terutama rektorat. Isinya sederhana saja: Arya Antaputra memang ada, dan orang-orang yang meragukan keberadaannya terlalu banyak membaca teori konspirasi dan/atau terlalu banyak memeras otak.
  • Teori Topeng (Mask Theory)
    Ada sekelompok orang, kemungkinan warga ITB, yang menghidupkan tokoh "Arya Antaputra" dengan secara bergantian mengenakan topeng, menggunakan pengubah suara, dan meniru perilaku Arya. Besar kemungkinan mereka ini sedang dalam terapi pelepasan stres dan menggunakan topeng Arya untuk melindungi diri dari rasa malu selama menjalani terapi.
  • Teori Hantu (Spirit Theory)
    Arya Antaputra sebenarnya adalah makhluk halus. Para pendukung teori ini menunjukkan bukti berupa gerak-gerik Arya yang kadang membahayakan dirinya sendiri dan kecenderungannya untuk bicara dan tertawa sendiri, juga kecenderungannya muncul dan menghilang tiba-tiba.

Anda punya teori lain lagi? Silakan tambahkan di Comments...

Arya Antaputra, Nyatakah Dia?

Kontroversi tak pernah lepas dari sosok yg satu ini. Ada yg menganggapnya aneh, ada yg menganggapnya baik hati. Ada yg menyebutnya pembuat gaduh, ada yg melihatnya selalu diam. Ada yg menyebutnya cuek, tapi ada juga yg menyebutnya setia kawan. Sekarang, muncul pertanyaan baru: apakah Arya Antaputra benar2 ada?

Kebanyakan org secara spontan akan menjawab "ya" pd pertanyaan tersebut. Bagaimana tidak, hampir setiap hari ia terlihat dan mengikuti kuliah di Institut Teknologi Bandung. Ia punya keluarga, riwayat hidup, alamat tempat tinggal, dan tentu saja teman. Sebagian org bahkan merasa berhubungan dekat dgn Arya.

Lalu, mengapa eksistensinya dipertanyakan?

Bila diperhatikan, banyak terdapat kejanggalan pd diri dan kehidupan Arya. Yg paling terlihat tentu saja sikap dan tingkah lakunya yg seringkali aneh. "Energinya seperti tak terbatas, terus bergerak, bernyanyi, dan tertawa-tawa," tutur seorang mahasiswa ITB. "Ngomongnya aneh banget, kadang2 saya bingung dia waras atau tidak," timpal mahasiswa lain.

Arya juga seringkali muncul dan menghilang tanpa diduga-duga. Ia jarang berbicara utk menanggapi org; bila berbicara, biasanya ia mengangkat topik yg hanya dipahaminya sendiri. Kadang2 keberadaannya tidak disadari org di sekitarnya, seakan ia tidak di sana.

Semua fenomena ini lambat laun menimbulkan pertanyaan: apa Arya itu nyata?

Menurut Dimas (nama samaran), seorang psikolog dari Institut Psikologi Indonesia, keberadaan Arya dapat merupakan gejala dari halusinasi massal. Ini merupakan sebuah fenomena yg sangat jarang terjadi, dan biasanya direkayasa dgn obat2an atau terapi tertentu. "Cara ini pernah digunakan oleh Nazi Jerman pada Perang Dunia II, dan ada kemungkinan juga digunakan oleh rezim Milosevic di Serbia," contohnya.

"Dgn pengaturan pola pikir yg tepat, bayangan yg sama dapat diatur agar muncul dlm pikiran tiap org. Ini yg menyebabkan wujud fisik Arya yg dilihat tiap org rata2 serupa," tambahnya.

Mengenai perilaku Arya yg bervariasi, "Kemungkinan besar, sosok Arya memang dirancang utk memenuhi kebutuhan psikologis atau fantasi individu, yg pada tiap org kadarnya berbeda. Ia juga dapat merupakan simbol utk pemanggilan memori dari alam bawah sadar."

Menghadapi dunia yg semakin kompleks dan membingungkan ini, memang banyak org mengalami depresi dan melarikan diri secara psikologis, termasuk menggunakan alkohol dan obat2an. "Bagi banyak org, sosok Arya mungkin merupakan terapi yg efektif, baik sebagai pelarian atau pelampiasan fantasi2 liar."

Lalu, siapa yg merekayasa Arya Antaputra? Dugaan terkuat jatuh pada ITB sendiri. "Suasana ITB yg kompetitif dan penuh konflik menimbulkan kelelahan yg memudahkan halusinasi massal yg terkendali dilakukan," menurut Luthfi (nama samaran), seorang pakar psikologi massa. Tambahnya lagi, ITB mempunyai sumber daya yg cukup utk melakukan hal tsb. "Soal riwayat hidup dan dokumen2 lain, itu soal kecil. Ingat, ini Indonesia!" katanya setengah berkelakar.

Untuk apa ITB berbuat demikian? "Pada tahap lanjut, halusinasi massal dapat digunakan utk mengendalikan massa secara total," lanjut Luthfi. "Yang kita lihat sekarang ini baru awal."

"Ini dapat merupakan proyek kerjasama ITB dgn kekuatan lain, baik dalam negeri maupun asing. Eksperimen sebesar ini pasti menghasilkan pemasukan yg sangat besar bagi ITB," tambah Dimas. Nilai proyek ini, bila memang benar2 ada, diperkirakannya mencapai puluhan milyar rupiah.

Saska (nama samaran), seorang aktivis KM-ITB, menduga proyek ini juga berhubungan dgn memburuknya hubungan rektorat dgn mahasiswa. "(ITB) dgn mudah bisa memanipulasi pikiran mahasiswa agar mengikuti kemauan mereka. Pembubaran himpunan, pembubaran KM, DO mahasiswa, dan manuver2 lain dapat dilakukan tanpa perlawanan," jelasnya. "Apalagi, proyek ini dapat menghasilkan dana besar. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui."

Seperti dapat diduga, pihak ITB sendiri membantah keras tuduhan2 tersebut. "Tidak benar itu, masa kami mengorbankan mahasiswa menjadi kelinci percobaan? Benar2 mengada-ada," kata Wakil Rektor Bidang Riset saat ditemui di kantornya di Rektorat ITB, Jl. Tamansari 64.

"Nama Arya Antaputra memang terdaftar sebagai mahasiswa di sini. Data2nya lengkap, kalau mau nanti silakan lihat. Dan dia sering ada di kampus kan? Masa masih dibilang tidak nyata? Sepertinya mereka perlu refreshing, nanti saya usulkan ke Bapak Rektor bikin acara wisata," tambahnya bercanda. Beliau sendiri mengaku blm pernah bertemu dgn Arya.

Bagaimanapun juga, misteri Arya telah menyebabkan munculnya berbagai teori di kalangan mahasiswa (lihat: Teori-teori Lain). Sebagian mahasiswa bahkan meluangkan sebagian waktunya utk menyelidiki misteri ini lebih jauh. "Gue udah ke Jakarta, lihat rumahnya, ngobrol sama teman2nya. Kalau gue sendiri sih sekarang yakin Arya emang ada," kata Ayu (EL '04).

"Kalau saya masih blm yakin. Semua itu bisa rekayasa. Org2 yg saya wawancara kebanyakan hanya mengenalnya secara umum, dan yg lebih akrab pun hanya ingat sepotong2. Jangan2 ingatan mereka juga dimanipulasi," kata Syawal (TI '03).

Apa yg menyebabkan Syawal, Ayu, dan banyak mahasiswa lain rela mengorbankan waktu, tenaga, dan uang utk menyelidiki Arya, apalagi mengingat tuntutan akademik ITB saat ini sudah semakin berat? Ayu menjawab bersemangat, "Seru aja. Jarang kan ada kasus seperti ini. Lagipula gue jadi banyak teman baru, dari org2 yg ngasih informasi dan dari anak ITB sendiri yg mau tahu progress gue."

"Sebenarnya saya lebih senang beraktivitas di unit. Tapi skrg kita banyak dapat tekanan dari atas [rektorat ITB, red.]. Sulit bikin acara. Jadi sambil tetap aktif di unit, saya coba kegiatan baru. Lumayan, teman2 juga mulai tertarik," kata Syawal, yg diiyakan oleh beberapa temannya.

Bagi mahasiswa ITB, keberadaan Arya memang memberi kesan tersendiri. "Gue sih senang aja ngelihatnya. Aneh, lucu. Lain dari yg lain," komentar Duwita (BI '02).

"Dia baik banget. Senang foto2, nggak tahu tuh buat apa," kata Hariza (TL '03).

"Aneh aja. Yg gua nggak suka, dia senang cari2 perhatian. Berasa seleb," kata Bona (TM '03).

Nah, bagaimana pendapat Anda?